December 28, 2003

Ojo Dumeh Ojo Dumeh Anugerah Media Kebudayaan

Sumber: Republika | 28 Desember 2003

Sastrawan Putu Wijaya boleh tersenyum. Salah satu karya fiksinya yang dituangkan dalam sinetron Ojo Dumeh, sukses melambungkan nama Surya Citra Televisi Indonesia (SCTV). Karena Ojo Dumeh, salah satunya, SCTV berhak atas Anugerah Media Kebudayaan untuk Televisi Indonesia kategori sinetron, dari Kementerian Negara Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar).

Ojo Dumeh, dalam sinopsisnya yang dirilis SCTV, adalah nama sebuah pesanggrahan yang dikelola oleh bapak dan ibu Sastro. Dalam menjalankan kegiatan sehari-harinya, mereka dibantu oleh Trinil dan Mini yang genit. Ada juga tokoh Klobot dan Arjuna, pembantu keluarga Pak Sastro.

Namun, di pesanggrahan Ojo Dumeh, ada juga penghuni lain yaitu makhluk halus bernama Nimas Ratu, yang konon meninggal akibat bunuh diri setelah dikhianati sang suami. Makhluk halus ini bisa baik, tetapi bisa juga garang apabila ada orang yang berniat jahat terhadap keluarga Pak Sastro.

Di pesanggrahan inilah berbagai persoalan timbul, seiring dengan silih bergantinya tamu-tamu yang menginap. Setiap episode baru tentu membawa cerita baru, tetapi tentu tetap dengan benang merah pada peristiwa dan kejadian di pesanggrahan. Pemeran utamanya adalah Inneke Koesherawati, Tarsan Srimulat, Tati Wardiono, dan Tukul Arwana.

Trofi karya pematung Iriantine Karnaya menandai acara pengalungan Anugerah Media Kebudayaan itu di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Ahad dua pekan lalu. Kegiatan ini baru pertama kali digelar dan khusus dipersembahkan untuk media televisi.

Panitia membagi acara bernuansa kebudayaan di televisi ke dalam lima kategori. Meliputi kategori sinetron, feature, acara anak, variety show, dan seni pertunjukkan. Lima kategori anugerah itu disabet secara bagi rata oleh lima stasiun televisi.

Pakar komunikasi dari LP3Y, Drs Ashadi Siregar, mengetuai dewan juri yang beranggotakan budayawan, seniman, dan pengamat televisi. Mereka adalah Prof Dr Edi Sedyawati, Prof Dr Harsono Suwardi, Drs Yasraf Amir Piliang MA, dan Drs Ade Armando.

Selama dua bulan terakhir, dewan juri melek di depan televisi. Mereka memantau dan menilai program-program tayangan yang mengandung nilai-nilai budaya nasional. Identifikasi mereka adalah mencari program rutin. Dari situ kemudian diukur volume serta substansi budayanya.

Walhasil, akhirnya delapan stasiun televisi diboyong ke babak nominasi. Untuk kategori sinetron, terdapat SCTV dengan tayangan Ojo Dumeh, Juragan Lenong, dan Pesan Gado-gado.

Nomine kedua adalah Trans TV yang mengusung sinetron komedi situasi masyarakat Betawi, Bajaj Bajuri. Dan pada nomine ketiga adalah ANtv dengan tayangan Leila Majenun dan Gado-gado Metropolitan. Pemenang untuk kategori sinetron ini diraih SCTV!

Pada kategori feature, nominenya terdiri dari TV7 (Jejak Petualang), TVRI (Dokumenter), dan Metro TV (Oasis, Archipelago, Expedition, dan Maestro). Yang meraih anugerah adalah Metro TV.

Kategori acara anak, muncul nominasi yang terdiri dari Trans TV (Rahasia Anak), Indosiar (Sahabat Sejati dan Celoteh Anak), serta TVRI (Pentas Anak). Indosiar keluar sebagai pemenangnya.Untuk kategori variety show, cuma ada dua nominasi, yakni TV7 dengan Es Campur Es dan TPI dengan Pasar Rakyat. TPI tampil sebagai pemenangnya.

Pada kategori seni pertunjukkan, juga hanya dua nomine. Masing-masing Indosiar yang dikenal konsisten menayangkan Ketoprak dan Wayang Kulit, serta TVRI dengan program Musik Pop Daerah, Wayang Kulit, dan Wayang Orang. TVRI mengalahkan Indosiar!

''Anugerah Kebudayaan ini diberikan untuk televisi yang dianggap berdedikasi terhadap kebudayaan,'' kata Menteri Negara Budpar, I Gede Ardhika. Ardhika kemudian buru-buru mengatakan bahwa pada tahun-tahun berikutnya anugerah serupa sekalgus diberikan kepada media cedtak dan radio. Joko Edhi Sucipto, sang produser kegiatan tersebut, ikut menegaskan rencana pemberian anugerah kebudayaan yang diperluas itu.

''Kementerian Budpar memiliki program pemberian Anugerah Kebudayaan untuk media massa. Namun karena banyak keterbatasan, untuk tahun ini baru bisa diberikan kepada televisi,'' kata Joko kepada Republika.

Malah, untuk tahun berikutnya, lanjut Joko, tidak hanya media cetak dan elektonik yang akan mendapat anugerah, termasuk media luar ruang (iklan misalnya bilbor, spanduk, dan reklame), serta publik forum (seperti seminar). ''Nantinya, kami bisa memberikan penghargaan kepada orang perorangan, seperti pembicara dalam seminar yang dianggap melakukan mediasi kebudayaan,'' tambah Joko.

Mengedepankan televisi untuk mendapatkan anugerah, agaknya tidak lepas dari kecemasan masyarakat yang makin meluas. Yakni terhadap banyak tayangan sampah yang bisa menimbulkan erosi budaya dan dekadensi moral. Belakangan sampai muncul gugatan dan pertanyaan sinis kepada para pengelola televisi tentang program yang ditayangkannya. ''Makhluk apakah insan televisi itu? Apakah mereka manusia yang punya otak, hati, dan keluarga, atau robot?'' kata sejumlah pemirsa.

Dalam bahasa halus, Joko menguraikan, betapa media pandang dengar (televisi) dalam pembentukan perilaku anak bangsa. Namun, televisi meliki pakem sebagai media pembentukan perilaku yang berdiri di atas paradigma industri.

''Untuk menjadikan televisi sebagai industri berbudaya, mustahil. Kami tidak bermaksud untuk menarik mundur fungsi televisi dengan menjadikannya media kebudayaan. tapi bagaimana bisa memberikan muatan kebudayaan pada pesan-pesan yang di sampaikannya,'' tutur Joko.

Kekurangan lain dalam penyelenggaraan anugerah kali ini adalah belum jelasnya kriteria penilaian. Joko mengungkapkan kritik dari seniman Adhie Massardi yang menilai kriteria penilaian lebih condong ke program (performance) ketimbang substansi (sistem nilai). ''Kalau begitu yang dianggap budayawan adalah programer,'' kata Adhie.

Joko menerangkan bahwa untuk tahap awal ini memang sulit untuk menentukan kriteria. Sebab, definisi kebudayaan pun dalam tayangan televisi masih rancu. Tayangan ketoprak misalnya, belum tentu memiliki substansi kebudayaan kalau isinya penuh dengan humor.

Tapi pada garis besarnya, menurut Joko, kriteria penilaian mengacu pada nilai-nilai yang diterima publik sebagai pesan kebudayaan. ''Memang masih diperlukan pakem-pakem dan parameter lebih lanjut,'' katanya. Joko juga mengangankan, Anugerah Kebudayaan sebaiknya mirip Oscar. Yakni, semua pihak yang terlibat dalam proses mediasi kebudayaan mendapatkan trofi.

''Tapi, so far so good, lepas dari segala kelemahan dan kekurangannya, Anuegerah Media Kebudayaan Kali ini masih lebih baik ketimbang tidak dilaksanakan,'' katanya. Tapi, yang tidak diharapkan, kegiatan itu terlalu dipaksakan. Misalkan,Kantor Meneg Budpar harus menghabiskan anggaran di akhir tahun. Kalau ternyata begitu, bisa dituding seperti judul sinetron Putu Wijaya, namanya ojo dumeh! (zam )

Kembali ke Jojon Center

Posted by JC at 16:31:36 | Permanent Link | Comments (0) |