September 22, 2004

Peringatan HLN Ke-59:

Sumber: PLN | September 2004

Siang hari itu, Rabu, 29 September 2004, terik matahari cukup me­nye­­ngat halaman upacara PLN Kantor Pusat, tempat berlangsungnya aksi Donor Darah Nasional (DDN). Meski kegiatan transfusi darah tersebut sudah dimulai sejak jam sembilan pagi, na­mun hingga pukul dua siang itu ra­tus­an orang masih antre untuk me­nyum­­bangkan darahnya.

Suparni, adalah salah satu dianta­ra­nya. Meski udara terasa semakin pa­nas, ia dengan sabar tetap menunggu gi­liran panggilan petugas transfusi da­rah. Namun sayang, wanita paruh baya yang rela datang jauh-jauh dari ru­mah­nya di kawasan Bekasi Timur itu, akhir­nya harus menerima kekecewaan. Pa­salnya, panitia terpaksa menghenti­kan aksi sosialnya karena kehabisan kan­tong darah.

Seperti diungkapkan Sekretaris Perusahaan PT PLN, Muljo Adji yang mengamati langsung pelaksanaan donor sejak pagi, bahwa di Kantor Pusat PT PLN hingga siang itu memang masih banyak calon pendonor yang antre. Na­mun mereka terpaksa kecewa karena kantong darah yang disiapkan hanya tersedia sesuai yang direncanakan.

“Kami sungguh tak mengira, be­gitu besar animo pegawai PLN dan ma­syarakat terhadap kegiatan DDN yang ju­ga dilaksanakan secara serentak se­lu­ruh Indonesia ini. Para calon donor be­gitu membludak,” ujar Muljo Adji.

Para petugas transfusi dari PMI yang bertugas di Kantor PLN Pusat si­ang itu memang begitu kewalahan me­layani para pendonor. Menurut Muljo, me­reka sama sekali tidak sempat ber­istirahat. Bahkan saat makan siang yang ba­ru bisa disediakan setelah pukul 13.30, itupun terpaksa mereka san­tap dengan tergesa-gesa. “Bagaimana bi­sa tenang, para petugas itu dikelilingi te­rus oleh calon pendonor yang tidak sa­bar menyumbangkan darahnya,” ujar Pak Sekper, salah seorang yang paling si­buk selama pelaksanaan rangkaian kegiatan HLN ke-59 kali ini.

***

Ulang tahun memang tidak selalu iden­tik dengan pesta dan hura-hura. Pa­ling tidak itulah yang ingin coba ditun­juk­kan PT PLN dalam mempe­ringati Ha­ri Listrik Nasional - 27 Oktober 1945, yang sekaligus juga sebagai hari ulang tahun­nya PLN yang ke-59 tahun ini.

Seperti juga tahun-tahun sebelum­nya, peringatan HLN kali ini memang di­warnai dengan berbagai kegiatan olah ra­ga, seminar, konvensi, maupun pem­be­rian penghargaan bagi perorangan ataupun Unit yang mempunyai kon­tri­busi terbaik ba­gi perusahaan. Namun yang nampak pa­­ling menonjol dari rang­­kai­an pe­r­i­ngat­an HLN tahun ini ada­lah adanya ber­bagai ke­giatan sosial yang benar-be­nar langsung menjangkau ma­syarakat yang membutuh­kan uluran tangan.

Direktur Utama PLN Eddie Wi­di­o­no, mengaku merasa gembira dan se­ka­ligus terharu, karena ternyata rang­kai­an kegiatan HLN tahun ini benar-be­nar dapat menyentuh nurani dan jiwa so­sial kita untuk peduli kepada sesama. “Ke­giatan ini sungguh merupakan cerminan dari tata nilai anggota Per­usahaan,” begitu ucap Eddie pada acara Malam Ramah Tamah HLN Ke-59 yang berlang­sung di Auditorium PLN Kantor Pusat, 12 Oktober lalu.

Dalam memperingati HLN tahun ini, cukup banyak kegiatan sosial yang meng­apresiasikan kepedulian PLN. Ti­dak hanya kegiatan donor darah, PLN Pusat juga menggelar aksi perkawinan massal, bantuan kepada anak-anak ya­tim, pan­ti-panti jompo, khitanan mas­sal, ope­rasi katarak, sampai dengan ke­giat­an berbagi kasih dengan anak-anak jalan­an.

Perkawinan massal yang digelar di sebuah panti sosial di kawasan Bekasi, pada 6 Oktober 2004, berhasil meni­kah­­­kan secara resmi 59 pasangan. Aksi so­­sial yang bertajuk “PLN Mantu” ini me­­mang bertujuan untuk membantu me­reka yang karena keterbatasannya, se­lama ini mereka hidup layaknya se­bagai suami-istri namun belum ada ikat­an secara resmi yang dituangkan dalam akte nikah.

Aksi kemanusiaan juga dilakukan pada sejumlah panti jompo yang ada di DKI Jakarta. Diantaranya, kunjungan dan penyerahan berbagai macam bantu­an itu ditujukan ke Panti Jompo Budi Mu­lia II di Cengkareng, Jakarta Barat pa­da 23 September silam, Panti Jompo Bu­di Mulia III berlokasi di Ciracas, Ja­karta Timur pada 28 September 2004, dan Panti Jompo IV di Kebayoran Baru, Ja­karta Selatan, pada 30 September 2004.

Bantuan yang diserahkan lang­sung oleh Persatuan Ibu-Ibu (PI) PT PLN kepada masing-masing panti jompo tersebut berupa barang-barang yang menjadi kebutuhan vital para peng­huni panti, seperti karbol, pem­pers, sembako, pewangi pakaian, pasta gigi, dan sabun mandi. Selain itu dibe­rikan pula bantuan berupa 40 kasur bu­sa kepada Panti Jom­po Budi Mulia III dan bantuan berupa perbaikan 2 unit WC juga dilakukan di Panti Jompo Budi Mulia II.

Menurut Tri Muljantini, koor­di­na­tor kegiatan bantuan panti jompo, le­wat ke­giatan sosial ini PT PLN me­mang ber­maksud membagi kasih kepa­da me­reka yang kurang beruntung. Para peng­huni pan­ti tersebut adalah orang tua tuna wis­ma yang tidak memiliki ke­luar­ga atau sa­nak saudara. “Tiga panti jom­po yang di­kelola Pemda DKI ini ang­garannya sangat tidak memadai. Ka­rena itulah perhatian dan partisipasi ma­syarakat tentu akan sangat mem­ban­tu kelang­sung­an opera­sio­nal panti,” ujarnya.

Tri juga mengatakan, lewat kegiat­an tersebut PT PLN juga bermaksud mem­bagi keceriaan dan kegembiraan ke­pada para jompo. Itulah sebabnya da­lam setiap kunjungan diiringi dengan hi­buran berupa permainan organ tung­gal, sehingga mereka bisa bergembira, ber­nyanyi dan menari bersama.

Rekor Fenomenal
Yang patut dibanggakan warga PLN pada peringatan HLN tahun ini ada­lah keberhasilan dalam penyeleng­garaan Donar Darah Nasional, sebuah ak­si sosial yang mampu menghimpun sebanyak 53.369 pendonor yang me­nyum­bangkan 13,3 juta cc darah. Ke­giatan DDN yang dilaksanakan sporadis selama 6 jam pada 19 September di seluruh PLN beserta Unit-Unit dan di­ikuti oleh keluarga besar PLN beserta mi­tra kerjanya itu bahkan telah tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI).

Piagam Rekor MURI yang dicapai oleh PLN dalam kegiatan DDN tersebut secara resmi telah diserahkan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro yang di­dam­pingi Paulus dari MURI, kepada Dir­ut PLN Eddie Widiono pada acara Ma­lam Ramah Tamah HLN di Audi­to­rium PLN Kantor Pusat.

Menurut Eddie Widiono, penca­paian rekor MURI ini sebenarnya bu­kanlah target utama. Kegiatan donor da­rah ini dimaksudkan untuk mewu­jud­kan kepedulian PLN atas penderitaan sesama umat manusia. “Itulah tujuan utama kami. Kalaupun ternyata jumlah pendonor mampu menyerahkan rekor nasional yang sudah ada, saya kira itu atas karunia Tuhan Yang Maha Esa, kerja keras teman-teman panitia di seluruh Indonesia dan dukungan PMI dan pihak lainnya,” ujarnya.

Berdasarkan catatan MURI, rekor donor darah sebelumnya dipegang PT APAC Inti Corpora dengan jumlah pen­donor 4.879. Rekor yang tercipta pada September 2003 itu dicapai dalam wak­tu 7 jam. Namun rekor hanya ber­ta­han sebulan, sebab pada Oktober 2003 Pem­da Daerah Istimewa Yogya­kar­ta berhasil me­ng­ungguli dengan jumlah 4.884 pen­­donor dalam tempo 7 jam.

Dibanding dengan dua rekor sebe­lumnya tersebut, menurut Sekre­taris Per­usahaan PT PLN Muljo Adji, prestasi yang dicapai PLN memang jauh lebih fenomenal. “Selain jumlah pendonor­nya meledak, waktu yang diperlukan pun lebih singkat. Saya tidak tahu apa­kah prestasi ini bahkan juga pantas un­tuk dicatat dalam Guinness Book of Record,” ujarnya.

Adji mengatakan, sebetulnya po­tensi jumlah pendonor dan darah yang disumbangkan bisa jauh melam­paui rekor tercipta. Di Kantor Pusat PLN sa­ja, jumlah yang mendaftar mencapai lebih dari 950 pendonor. Namun karena kantong darah yang tersedia hanya 450 buah, terpaksa banyak calon pendonor yang kecewa. Kejadian serupa, menur­utnya, juga banyak dialami Unit-Unit di seluruh Indonesia.

Keberhasilan DDN ini memang merupakan keberhasilan dalam memo­bi­lisasi seluruh kantor Unit PLN di seluruh Indonesia. Menurut Siswanto Hadiatmo, koordinator DDN, aksi do­nor darah yang diselenggarakan secara se­­rentak ini dipusatkan di Jakarta, untuk wilayah Indonesia Barat. Sedang­kan wilayah Indonesia Tengah dan Ti­mur, masing-masing dipusatkan di Ma­nado/Makasar dan Jayapura.

Lokasi pengambilan darah telah dilak­sanakan di semua jajaran PT PLN, mu­lai dari Ranting, Rayon, Cabang, Area Pelayanan dan Jaringan (APJ), Area Pelayanan Pelanggan (APP), Wilayah, Anak Perusahaan, Proyek Induk, Kantor Pusat, dan unit-unit penunjang lain. Kegiatan donor darah juga dilaksanakan di tempat-tempat publik, seperti mall, lapangan terbuka, dan pusat-pusat keramaian lainnya. Dilaporkan, di Unit-Unit PLN di Jawa Timur telah melibat­kan sekitar 5.123 orang yang melakukan donor darahnya kepada PMI Surabaya. Di Jawa Tengah jumlah pendonor mencapai 8.621 orang.

Menurut Siswanto, aksi donor da­rah ini memang menjadi kegiatan an­dal­an dari rangkaian kegiatan Hari Lis­trik Nasional. Itulah sebabnya pihak­nya telah mengerahkan segala kemam­pu­an yang ada demi suksesnya acara ini. “Kami juga berterima kasih kepada ma­syarakat umum yang sudah berkenan ber­partisi­pasi dengan mendo­norkan da­rahnya pada kegiatan ini,” tutur Siswanto.

Paulus, perwakilan MURI yang men­dam­pingi Menteri ESDM saat pe­nyerahan piagam rekor MURI mengata­kan, aksi kemanusiaan donor darah yang digelar PLN secara nasional ini me­mang fenomenal. Namun selain itu, menurut Paulus, sebenarnya ada dua kegiatan PLN lainnya yang memiliki ca­tat­an prestasi mengagumkan. Perta­ma adalah kegiatan khitanan massal yang diselenggarakan PLN di Makasar diikuti oleh sekitar 7 ribu anak. “Saya ki­ra ini bu­kan saja menjadi rekor na­sio­nal, tapi mungkin ini merupakan re­kor dunia,” ujar Paulus yang langsung disambut dengan tepuk tangan seluruh hadirin yang mengikuti acara Malam Ramah Ta­mah tersebut.

Kedua, Paulus juga mengabarkan kegiatan fenomenal lainnya di ling­kung­an PLN, yaitu dengan berlang­sung­nya aksi pengumpulan pesan sing­kat atau komentar dari pelanggan ten­tang PLN yang ditulis pada sebuah span­duk sepanjang 1 Km. “Aksi yang ber­langsung di Cirebon belum lama ter­se­but, juga luar biasa,” ujarnya lagi.

Terlepas mencatat rekor atau ti­dak, menurut Eddie Widiono, semua ke­­giatan sosial dalam rangka peringat­an HLN tersebut merupakan wujud dari keinginan warga PLN untuk lebih me­ng­­apresiasikan kepeduliannya terha­dap ma­syarakat yang benar-benar mem­bu­tuhkan bantuan.
“Rasa kepedulian tersebut juga akan kami wujudkan dalam bentuk acara ‘Peduli Kasih’ atas kerjasama dengan Stasiun TV Swasta yang akan ditayangkan pada 24 Oktober menda­tang,” ujar Eddie pada Malam Ramah Tamah yang selain dihadiri Menteri ESDM, Sekjen DESM, Dirjen LPE, para Komisaris dan Direksi PLN dan para GM/Pemimpin Unit seluruh Indonesia.

Pada acara yang dimeriahkan se­jum­lah artis ternama seperti Denada, Ro­ni Sianturi, Tukul Arwana dan Diah Pi­thaloka tersebut, Purnomo Yusgian­to­ro menyerahkan penghargaan Mente­ri ESDM, “Dharma Karya”, kepada 5 Unit Pelayanan PLN terbaik, sementara Eddie Widiono menyerahkan beberapa peng­hargaan kepada para pemenang lom­ba untuk umum dan penghargaan un­tuk pelanggan.

Secara khusus, pada kesempatan itu Eddie Widiono juga menyerahkan se­buah penghargaan istimewa kepada Ma­najer UPJ Bandung Selatan, Su­prap­to, atas dedikasi dan loyalitasnya me­lawan tindak kekerasan. Saat menerima piagam penghargaan tersebut, sebelah tangan Suprapto nampak masih terbalut perban.

Konon Suprapto mendapat se­ra­ng­­­an brutal dari salah seorang pelang­gannya ketika ia menjalankan tugas se­hingga jarinya terputus. “Beliau pantas diberi penghargaan, karena meski be­gitu berat rintangan dan ancaman yang dialami, tetapi demi tugas Pak Suprapto te­tap teguh menghadapinya. Sikap ini­lah yang patut dicontoh oleh kita se­mua,” ucap Eddie Widion

Kembali ke Jojon Center

Posted by JC at 17:09:41 | Permanent Link | Comments (1) |