Mereka yang Baru Populer
Sumber: Minggu Pagi | Sabtu, 15 Oktober 2005.
Komeng Tolak Sahur Biar Penonton Tak Jenuh
DIHUBUNGI lewat telepon, pelawak Komeng mengaku pada bulan Ramadan ini ia menolak tawaran acara sahur. Alasannya, biar penonton tak jenuh.
Padahal sampai Lebaran ia ditinggal isteri, anak dan pembantunya mudik ke Malang Jawa Timur. Walhasil Komeng home alone di Jakarta. "Lebaran mungkin saya di rumah nenek. Kalau mau makan tinggal panggil tukang bakso" katanya.
Ngapain nggak ikut mudik? Kan sudah ngurangin job di teve?
Figur Publik ini pernah merasa seperti topeng monyet. "Tahun 2000 saya benar-benar kayak topeng monyet. Sepulang Salat Id saya diikutin anak-anak kecil sampai puluhan jumlahnya. Wah, repot banget deh. Mending saya istirahat di rumah sendiri, makan tidur dan jalan-jalan" ujar Komeng.
Hampir tiap hari "Uhuy" ini menyempatkan diri kumpul di basecamp bersama kelompok Cagur. "Saat puasa begini ada aturan di basecamp. Di antara kami nggak boleh saling menghina, bohong atau usil. Kalau melanggar didenda Rp 5000. Uangnya dimasukkan kotak, baru dibuka saat Lebaran untuk disumbangkan ke tempat ibadah terdekat" katanya.
Ngumpul banyak dong, kan yang namanya pelawak sulit untuk tidak usil? Hehehe...
Berusaha Tetap Waras Aming Belum Beli Mobil
TARIF Aming sekarang Rp 25 juta di luar Extravaganza. "Untuk ukuran mahasiswa, ini lebih dari cukup" kata pelawak yang masih kuliah di Jurusan Desain, FSRD ITB itu. "Duitku udah cukup buat beli mobil, tapi aku masih berusaha untuk tidak schock culture. Berusaha untuk tetap waras deh. Jadi aku milih untuk nggak mau takabur dulu. Belajar untuk tetap rendah hati. Setiap orang kan punya potensi untuk jadi sombong?"
Aming Supriatna Sugandhi mengaku masih hobi naik angkot. "Tapi aku mulai nggak berani jalan sendiri" lanjut pelawak kondang kelahiran Jakarta, 7 November 1980 itu. Takut dicubitin cewek, atau malah dijawil-jawil cowok, Ming?
Dikutuk LSM Wanita Narji Suka Ngelaba?
DI PANGGUNG dagelan, beberapa pelawak dinilai suka mengambil keuntungan dari bintang tamu perempuan. Salah satunya Narji Cagur. Pendagel ini pernah dikutuk LSM wanita karena kebiasaannya ngelaba itu.
"Kalau Narji melakukan itu, karena dunia semakin tidak keruan" katanya, lalu kalimat itu berlanjut tidak serius, dan memang keseharian Narji --kata teman-temannya-- sukanya ngocol tidak keruan. Di kamar rias pun ia melucu.
"Nggak tau ya, kenapa mulut jadi seperti ini" kata mahasiswa UNJ (dulu IKIP Jakarta) yang bersama grup lawaknya, Cagur atau Calon Guru merintis karir dari panggung lomba, pernah Juara III Lomba Humor ala Mahasiswa gelaran RCTI dan Juara II Lomba Humor Indonesia 2002.
"Melawak itu tidak gampang. Yang paling sulit adalah mencari tema yang pas. Karena itu, kemampuan kita mengendus karakter penonton, sangat menentukan," katanyal. Kali ini terdengar serius.
Tessy yang Dikangeni Tapi Kadang Juga Diemohi
INI contoh lain pelawak yang suka memanfaatkan kesempatan di panggung. Sering ditepuknya pinggul cewek teman mainnya, tak jarang pula ia menyakiti sesama pelawak misalnya dengan mencubit atau mendorong sungguhan. Maka Kabul Basuki alias Tessy sering disingkiri artis terutama bintang tamu perempuan. Di beberapa milis, banyak yang menyayangkan tindakan Tessy ketika berada di atas pentas.
"Yaa, itu kan hanya di panggung, biar lawakannya lucu. Tidak ada maksud apa-apa kok" kata suami Sri handayani yang bapak empat anak itu.
Tiga tahun jadi anggota KKO, 1961-63, Tessy lalu ambyur ke dunia lawak dan namanya mencuat bersama Srimulat di tahun 80-an. Padahal ia ndagel sejak 1964 gabung sandiwara keliling Kintamani, Ribut Rawit dan Lokaria, sebelum akhirnya mantap di Srimulat mulai 1979. "Saya bersyukur, dari melawak bisa memenuhi kebutuhan hidup. Termasuk menyekolahkan anak. Saya bangga. Artinya, profesi yang saya pilih tidak salah," tandas pria kelahiran 15 Juni 1942, yang hampir semua jari tangannya dipenuhi akik, "ada yang dikasih Gubernur, ada yang dikasih tukang bakso" katanya sambil ketawa.
Tukul Arwana Survive Hidup Itu dari Bawah
TERMASUK menonjol belakangan ini, adalah pelawak asal Semarang Tukul Arwana. Lejitannya mungkin akibat serial syur tayangan TV swasta di mana Tukul menjadi naratornya. Apa resep moncer menurut pria bernama asli Riyanta itu?
"Mau belajar," jawab Tukul yang mengakui Jakarta adalah gudang pelawak top, tapi berat sekali hidup di kota besar itu. "Jika tidak mampu survive, pasti akan tergilas" katanya. "Tapi ada hikmahnya juga hidup dari bawah. Kesusahan menjadikan kita terpacu"
Karena survive maka Tukul sering over mood sehingga muncul penilaian bahwa ia pelawak yang suka menjatuhkan kawan mainnya di panggung?
"Ih, kejam banget tuduhan itu. Kita kan sama-sama cari makan. Kalau aku aktif, itu karena diriku ini orang yang kreatif", katanya semi bercanda.
Ia pernah bikin Plesetan Pantun untuk MP. Ketika mengirim naskah itu, pendagel dengan potongan rambut seperti kotak amal ini gojegan, "Golekke job to. Mengko tak wenehi persenan. Tinimbang golek wong liyo, aku wae. Aku siap tampil habis-habisan. Hehehe...."
Kembali ke Jojon Center
Komeng Tolak Sahur Biar Penonton Tak Jenuh
DIHUBUNGI lewat telepon, pelawak Komeng mengaku pada bulan Ramadan ini ia menolak tawaran acara sahur. Alasannya, biar penonton tak jenuh.
Padahal sampai Lebaran ia ditinggal isteri, anak dan pembantunya mudik ke Malang Jawa Timur. Walhasil Komeng home alone di Jakarta. "Lebaran mungkin saya di rumah nenek. Kalau mau makan tinggal panggil tukang bakso" katanya.
Ngapain nggak ikut mudik? Kan sudah ngurangin job di teve?
Figur Publik ini pernah merasa seperti topeng monyet. "Tahun 2000 saya benar-benar kayak topeng monyet. Sepulang Salat Id saya diikutin anak-anak kecil sampai puluhan jumlahnya. Wah, repot banget deh. Mending saya istirahat di rumah sendiri, makan tidur dan jalan-jalan" ujar Komeng.
Hampir tiap hari "Uhuy" ini menyempatkan diri kumpul di basecamp bersama kelompok Cagur. "Saat puasa begini ada aturan di basecamp. Di antara kami nggak boleh saling menghina, bohong atau usil. Kalau melanggar didenda Rp 5000. Uangnya dimasukkan kotak, baru dibuka saat Lebaran untuk disumbangkan ke tempat ibadah terdekat" katanya.
Ngumpul banyak dong, kan yang namanya pelawak sulit untuk tidak usil? Hehehe...
Berusaha Tetap Waras Aming Belum Beli Mobil
TARIF Aming sekarang Rp 25 juta di luar Extravaganza. "Untuk ukuran mahasiswa, ini lebih dari cukup" kata pelawak yang masih kuliah di Jurusan Desain, FSRD ITB itu. "Duitku udah cukup buat beli mobil, tapi aku masih berusaha untuk tidak schock culture. Berusaha untuk tetap waras deh. Jadi aku milih untuk nggak mau takabur dulu. Belajar untuk tetap rendah hati. Setiap orang kan punya potensi untuk jadi sombong?"
Aming Supriatna Sugandhi mengaku masih hobi naik angkot. "Tapi aku mulai nggak berani jalan sendiri" lanjut pelawak kondang kelahiran Jakarta, 7 November 1980 itu. Takut dicubitin cewek, atau malah dijawil-jawil cowok, Ming?
Dikutuk LSM Wanita Narji Suka Ngelaba?
DI PANGGUNG dagelan, beberapa pelawak dinilai suka mengambil keuntungan dari bintang tamu perempuan. Salah satunya Narji Cagur. Pendagel ini pernah dikutuk LSM wanita karena kebiasaannya ngelaba itu.
"Kalau Narji melakukan itu, karena dunia semakin tidak keruan" katanya, lalu kalimat itu berlanjut tidak serius, dan memang keseharian Narji --kata teman-temannya-- sukanya ngocol tidak keruan. Di kamar rias pun ia melucu.
"Nggak tau ya, kenapa mulut jadi seperti ini" kata mahasiswa UNJ (dulu IKIP Jakarta) yang bersama grup lawaknya, Cagur atau Calon Guru merintis karir dari panggung lomba, pernah Juara III Lomba Humor ala Mahasiswa gelaran RCTI dan Juara II Lomba Humor Indonesia 2002.
"Melawak itu tidak gampang. Yang paling sulit adalah mencari tema yang pas. Karena itu, kemampuan kita mengendus karakter penonton, sangat menentukan," katanyal. Kali ini terdengar serius.
Tessy yang Dikangeni Tapi Kadang Juga Diemohi
INI contoh lain pelawak yang suka memanfaatkan kesempatan di panggung. Sering ditepuknya pinggul cewek teman mainnya, tak jarang pula ia menyakiti sesama pelawak misalnya dengan mencubit atau mendorong sungguhan. Maka Kabul Basuki alias Tessy sering disingkiri artis terutama bintang tamu perempuan. Di beberapa milis, banyak yang menyayangkan tindakan Tessy ketika berada di atas pentas.
"Yaa, itu kan hanya di panggung, biar lawakannya lucu. Tidak ada maksud apa-apa kok" kata suami Sri handayani yang bapak empat anak itu.
Tiga tahun jadi anggota KKO, 1961-63, Tessy lalu ambyur ke dunia lawak dan namanya mencuat bersama Srimulat di tahun 80-an. Padahal ia ndagel sejak 1964 gabung sandiwara keliling Kintamani, Ribut Rawit dan Lokaria, sebelum akhirnya mantap di Srimulat mulai 1979. "Saya bersyukur, dari melawak bisa memenuhi kebutuhan hidup. Termasuk menyekolahkan anak. Saya bangga. Artinya, profesi yang saya pilih tidak salah," tandas pria kelahiran 15 Juni 1942, yang hampir semua jari tangannya dipenuhi akik, "ada yang dikasih Gubernur, ada yang dikasih tukang bakso" katanya sambil ketawa.
Tukul Arwana Survive Hidup Itu dari Bawah
TERMASUK menonjol belakangan ini, adalah pelawak asal Semarang Tukul Arwana. Lejitannya mungkin akibat serial syur tayangan TV swasta di mana Tukul menjadi naratornya. Apa resep moncer menurut pria bernama asli Riyanta itu?
"Mau belajar," jawab Tukul yang mengakui Jakarta adalah gudang pelawak top, tapi berat sekali hidup di kota besar itu. "Jika tidak mampu survive, pasti akan tergilas" katanya. "Tapi ada hikmahnya juga hidup dari bawah. Kesusahan menjadikan kita terpacu"
Karena survive maka Tukul sering over mood sehingga muncul penilaian bahwa ia pelawak yang suka menjatuhkan kawan mainnya di panggung?
"Ih, kejam banget tuduhan itu. Kita kan sama-sama cari makan. Kalau aku aktif, itu karena diriku ini orang yang kreatif", katanya semi bercanda.
Ia pernah bikin Plesetan Pantun untuk MP. Ketika mengirim naskah itu, pendagel dengan potongan rambut seperti kotak amal ini gojegan, "Golekke job to. Mengko tak wenehi persenan. Tinimbang golek wong liyo, aku wae. Aku siap tampil habis-habisan. Hehehe...."
Kembali ke Jojon Center
