Saling Intip Menjelang Subuh
Sumber: Gatra | 14 November 2003
JARUM jam baru lewat beberapa menit dari angka 12 dini hari, Senin pekan lalu. Namun, di saat banyak warga Jakarta mulai bebenah tidur itu, kesibukan justru mulai menyeruak di Studio Penta di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Puluhan kru SCTV menyiapkan acara "Sahur Kita", yang akan ditayangkan dua setengah jam kemudian. Di ruang kontrol lantai II, produser pelaksana acara itu, Renoningtyas, terlihat berbincang serius dengan sutradara Sukendro.
Sekitar pukul 01.00, Ulfa Dwiyanti sang pembawa acara "Sahur" muncul di lantai II Penta. Padahal, acaranya baru dimulai satu setengah jam kemudian. "Setiap hari saya bangun pukul 12 malam. Siangnya tidur," ujar Ulfa. Beberapa menit setelah Ulfa, artis pendukung acara mulai berdatangan.
Djaja Miharaja masuk kamar rias, setelah makan sahur di kantin Studio Penta. Disusul Puput Novel, Jodhi, dan Eko Patrio. Lima menit menjelang tayang, kru SCTV menyerukan agar pendukung acara siap di posisi masing-masing. Selajutnya kamera membidik Eko dan Ulfa. Duet "Sahur Kita" ini tampil mengalir dengan gaya ngocol-nya.
Begitulah setiap malam berulang selama bulan Ramadan di Studio Penta. Mulai tengah malam hingga subuh tiba, tak kurang dari 60 kru SCTV bergumul. Saking padatnya acara, tiap Ramadan tiba, kehidupan Studio Penta berlangsung nonstop 24 jam setiap hari. Selain "Sahur Kita", di sana juga digarap "Sang Bintang", "Mimbar Agama", dan "Centro Campo Liga Italia".
Khusus untuk program Ramadan, SCTV juga menayangkan sinetron berjudul Lorong Waktu, Surga di Telapak Kaki Ibu, dan Jalan Lain ke Sana. Ada juga "Cahaya-Mu", yang dipandu Emha Ainun Nadjib, dan "Tauziah dan Zikir", dibimbing Arifin Ilham. Namun, hanya "Sahur Kita" yang disajikan dalam format siaran langsung, pukul 02.30 hingga 04.30, dan digarap full tawa.
"Sahur Kita" muncul pertama enam tahun silam, dan telah mengalami tiga kali perubahan format. Awalnya hadir dengan format talkshow ala TVRI, pembawa acara berdialog dengan seorang ustad selaku narasumber. Tahun kedua, diubah menjadi format siaran radio yang dibawakan Ulfah dan Eko. Ada segmen kirim salam, permintaan lagu, dan lomba pantun. "Sahur Kita"-lah yang jadi pionir acara sahur bergaya guyon.
Tahun ini, "Sahur Kita" ditambah fragmen keluarga yang dibintangi Djaja Miharja, Omaswati, dan Jodhi. Bintang tamunya berganti-ganti setiap episode. Di akhir fragmen, muncul seorang yang berperan sebagai penengah dan sekaligus memberi jalan bagi persoalan yang dihadapi "keluarga Djaja". Segmen dakwah ini hanya berlangsung sekitar empat menit dari seluruh acara yang menelan waktu selama dua jam. "Tapi, kalau dicermati secara keseluruhan, dakwahnya tidak hanya di empat menit itu. Fragmen juga mengemban misi dakwah, kuisnya juga tentang pengetahuan agama," kata Anto Botak, Produser "Sahur Kita".
Pada jam tersebut, hampir semua stasiun televisi sibuk menggarap acara siaran langsung. Bahkan TV7 menyewa studio selama satu bulan, seharga Rp 800 juta, khusus untuk syuting program Ramadan. Dari studio yang terletak di Wisma Mampang, Jalan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, itulah TV7 menggarap siaran langsung "Salam Sahur".
Selama satu setengah jam, "Salam Sahur" hadir dalam format komedi yang diperankan Dorce Gamalama, Tukul Arwana, Bolot, dan Cut Mini. Di sela-sela banyolan segar, "Salam Sahur" menyisipkan pesan agama yang disampaikan Ustad Anwar Sanusi. Paket acara itu dikerjakan bersama Rumah Produksi Ekomando milik Eko Patrio. "Biayanya Rp 150 juta hingga Rp 200 juta untuk sekali tayang," ujar Eko, yang menolak menyebutkan harga jual "Salam Sahur".
"Kami membeli konsep dari Ekomando, produksinya kami kerjakan sendiri," kata Azzust, Executive Producer TV7, yang juga penanggung jawab "Salam Sahur", kepada Indi Cristy dari GATRA. Tak kurang dari 25 kru TV7 dan 10 awak Ekomando terlibat dalam proses produksi di Wisma Mampang.
Bukan hanya TV7 yang menayangkan siaran langsung sahur dari Wisma Mapang, Anteve juga menyiarkan acara "Sahur Dong" secara live. Tak berbeda dari acara sahur stasiun televisi lainnya, "Sahur Dong" juga kental nuansa hiburannya dibandingkan dengan dakwahnya. "Habis mau bagaimana lagi, pemirsa televisi lebih menyukai acara hiburan untuk menemani makan sahur," kata Reva Dedi Utama, penanggung jawab program Ramadan Anteve.
Lebih dari itu, acara hiburan di saat sahur lebih banyak diminati pengiklan. "Kami pernah menayangkan program yang berbeda dari stasiun televisi lain, berupa talkshow membahas masalah agama. Namun, hanya sedikit iklan yang masuk," Reva menjelaskan. Karena itu, dalam bulan Ramadan sekarang ini, Anteve tak mau kalah menggeber acara hiburan bernuansa Ramadan.
Dana sebesar Rp 10 milyar dikucurkan untuk mengongkosi sejumlah paket acara bulan puasa Anteve, antara lain "Warung Bagito" yang disiarkan menjelang berbuka puasa dan "Sahur Dong". Anteve menargetkan perolehan iklan sekitar 24 slot dalam satu jam siaran. "Seandainya terisi 15 slot saja, mungkin sudah cukup," kata Reva Dedi Utama.
Sedangkan Trans TV mengaku pendapatan iklannya naik sekitar 30% selama sebulan menjelang Lebaran. "Kira-kira setara dengan kenaikan biaya produksi untuk program Ramadan," tutur Anita Wulandari, Head of Public Relations Trans TV. Sepanjang bulan suci sekarang ini, katanya, Trans TV memanjakan pemirsanya dengan enam program siaran Ramadan.
Antara lain, sinetron Bajaj Bajuri Spesial Ramadhan dan Pride of Islam Monuments, film dokumenter miniseri tentang bangunan monumental karya umat Islam di pelbagai penjuru dunia. Dua acara ini dibeli dari production house. Empat paket acara lainnya diproduksi sendiri oleh Trans TV, satu di antaranya "Yuk Sahur Yuk" yang merupakan paket acara produksi Trans TV termahal.
Hanya saja, produser acara "Yuk Sahur Yuk", Andi Fariadi, tak bersedia membeberkan ongkos produksi dan keuntungan yang didapat. "Itu rahasia perusahaan," ujar Andi Fariadi. Ia hanya menyebutkan, acara yang bertabur artis beken, seperti Maudy Koesnaedi, pelawak Miing, Didin, Parto Tegal, dan Tarzan, itu merupakan program unggulan Trans TV menjelang subuh.
Selama bulan puasa, stasiun televisi justru menayangkan program unggulan di waktu ayam berkokok itu. Sebab, selama sebulan itu, terjadi perubahan perilaku penonton televisi. "Di bulan puasa, waktu orang nonton televisi jauh lebih panjang," kata Manajer Humas SCTV, Budi Darmawan. Pada bulan puasa, masyarakat muslim mulai bangun sekitar pukul 02.00, menyiapkan hidangan sahur.
Antara pukul 03.00 dan 04.00, jumlah orang yang berjaga makin bertambah banyak. Setelah bersantap sahur, ada yang pergi ke masjid, tapi banyak pula yang menonton televisi di rumah. "Nah, banyaknya orang nonton televisi inilah yang berusaha kami jaring," kata Budi Darmawan. Makin banyak penonton televisi, bertambah banyak pula jumlah pengiklan yang masuk.
Meskipun di saat sahur iklan-iklan berjejalan di layar kaca, menurut Budi, tak berarti prime time televisi lantas ikut bergeser. Waktu tayang unggulan di bulan puasa, katanya, hanya bertambah sekitar tiga jam. Biasanya dari pukul 18.00 sampai 22.00, naik menjadi pukul 15.00 hingga pukul 22.00. Karena orang pulang kerja lebih cepat, sekitar pukul 16.30. "Sampai di rumah, mereka nonton televisi, menunggu saat berbuka puasa," katanya.
Bertambah jam tayang utama ini mendorong stasiun televisi mengeluarkan biaya ekstra untuk mengisi program Ramadan. Biaya produksi SCTV selama bulan puasa, menurut Budi Darmawan, diperkirakan naik 10% dari sekitar Rp 36 millyar per bulan menjadi sekitar Rp 40 milyar.
Sedangkan biaya produksi RCTI selama bulan puasa diperkirakan mencapai sekitar Rp 50 milyar, termasuk biaya produksi reguler dan program Ramadan. "Jadi, ada kenaikan biaya produksi sekitar 20% dari biasanya," kata Manajer Humas RCTI, Teguh Juwarno.
Meskipun stasiun televisi swasta mengeluarkan biaya ekstra di bulan puasa, acara yang mereka sajikan tak jauh berbeda. "Karena stasiun televisi saling mengintip acara yang disukai penonton," kata Budi Darmawan. Jika dalam acara sahur hampir semua stasiun televisi menghidangkan acara humor, katanya, karena penonton televisi lebih menyukai hiburan yang diselingi dakwah.
Kentalnya nuansa hiburan dalam program Ramadan di layar kaca dinilai pakar komunikasi dari Universitas Indonesia, Ade Armando, sebagai hal wajar. Karena acara tersebut dimaksudkan untuk menemani orang sahur, kata Ade Armando, yang ditampilkan tidak membutuhkan pemikiran dan perenungan panjang. "Dengan adanya acara entertainment, mereka yang masih mengantuk jadi terbangun," katanya. Tapi, karena terlalu banyak tawa, kok rasanya nuansa sahur tahun ini jadi kurang afdol, ya?
Kembali ke Jojon Center
JARUM jam baru lewat beberapa menit dari angka 12 dini hari, Senin pekan lalu. Namun, di saat banyak warga Jakarta mulai bebenah tidur itu, kesibukan justru mulai menyeruak di Studio Penta di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Puluhan kru SCTV menyiapkan acara "Sahur Kita", yang akan ditayangkan dua setengah jam kemudian. Di ruang kontrol lantai II, produser pelaksana acara itu, Renoningtyas, terlihat berbincang serius dengan sutradara Sukendro.Sekitar pukul 01.00, Ulfa Dwiyanti sang pembawa acara "Sahur" muncul di lantai II Penta. Padahal, acaranya baru dimulai satu setengah jam kemudian. "Setiap hari saya bangun pukul 12 malam. Siangnya tidur," ujar Ulfa. Beberapa menit setelah Ulfa, artis pendukung acara mulai berdatangan.
Djaja Miharaja masuk kamar rias, setelah makan sahur di kantin Studio Penta. Disusul Puput Novel, Jodhi, dan Eko Patrio. Lima menit menjelang tayang, kru SCTV menyerukan agar pendukung acara siap di posisi masing-masing. Selajutnya kamera membidik Eko dan Ulfa. Duet "Sahur Kita" ini tampil mengalir dengan gaya ngocol-nya.
Begitulah setiap malam berulang selama bulan Ramadan di Studio Penta. Mulai tengah malam hingga subuh tiba, tak kurang dari 60 kru SCTV bergumul. Saking padatnya acara, tiap Ramadan tiba, kehidupan Studio Penta berlangsung nonstop 24 jam setiap hari. Selain "Sahur Kita", di sana juga digarap "Sang Bintang", "Mimbar Agama", dan "Centro Campo Liga Italia".
Khusus untuk program Ramadan, SCTV juga menayangkan sinetron berjudul Lorong Waktu, Surga di Telapak Kaki Ibu, dan Jalan Lain ke Sana. Ada juga "Cahaya-Mu", yang dipandu Emha Ainun Nadjib, dan "Tauziah dan Zikir", dibimbing Arifin Ilham. Namun, hanya "Sahur Kita" yang disajikan dalam format siaran langsung, pukul 02.30 hingga 04.30, dan digarap full tawa.
"Sahur Kita" muncul pertama enam tahun silam, dan telah mengalami tiga kali perubahan format. Awalnya hadir dengan format talkshow ala TVRI, pembawa acara berdialog dengan seorang ustad selaku narasumber. Tahun kedua, diubah menjadi format siaran radio yang dibawakan Ulfah dan Eko. Ada segmen kirim salam, permintaan lagu, dan lomba pantun. "Sahur Kita"-lah yang jadi pionir acara sahur bergaya guyon.Tahun ini, "Sahur Kita" ditambah fragmen keluarga yang dibintangi Djaja Miharja, Omaswati, dan Jodhi. Bintang tamunya berganti-ganti setiap episode. Di akhir fragmen, muncul seorang yang berperan sebagai penengah dan sekaligus memberi jalan bagi persoalan yang dihadapi "keluarga Djaja". Segmen dakwah ini hanya berlangsung sekitar empat menit dari seluruh acara yang menelan waktu selama dua jam. "Tapi, kalau dicermati secara keseluruhan, dakwahnya tidak hanya di empat menit itu. Fragmen juga mengemban misi dakwah, kuisnya juga tentang pengetahuan agama," kata Anto Botak, Produser "Sahur Kita".
Pada jam tersebut, hampir semua stasiun televisi sibuk menggarap acara siaran langsung. Bahkan TV7 menyewa studio selama satu bulan, seharga Rp 800 juta, khusus untuk syuting program Ramadan. Dari studio yang terletak di Wisma Mampang, Jalan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, itulah TV7 menggarap siaran langsung "Salam Sahur".
Selama satu setengah jam, "Salam Sahur" hadir dalam format komedi yang diperankan Dorce Gamalama, Tukul Arwana, Bolot, dan Cut Mini. Di sela-sela banyolan segar, "Salam Sahur" menyisipkan pesan agama yang disampaikan Ustad Anwar Sanusi. Paket acara itu dikerjakan bersama Rumah Produksi Ekomando milik Eko Patrio. "Biayanya Rp 150 juta hingga Rp 200 juta untuk sekali tayang," ujar Eko, yang menolak menyebutkan harga jual "Salam Sahur".
"Kami membeli konsep dari Ekomando, produksinya kami kerjakan sendiri," kata Azzust, Executive Producer TV7, yang juga penanggung jawab "Salam Sahur", kepada Indi Cristy dari GATRA. Tak kurang dari 25 kru TV7 dan 10 awak Ekomando terlibat dalam proses produksi di Wisma Mampang.
Bukan hanya TV7 yang menayangkan siaran langsung sahur dari Wisma Mapang, Anteve juga menyiarkan acara "Sahur Dong" secara live. Tak berbeda dari acara sahur stasiun televisi lainnya, "Sahur Dong" juga kental nuansa hiburannya dibandingkan dengan dakwahnya. "Habis mau bagaimana lagi, pemirsa televisi lebih menyukai acara hiburan untuk menemani makan sahur," kata Reva Dedi Utama, penanggung jawab program Ramadan Anteve.Lebih dari itu, acara hiburan di saat sahur lebih banyak diminati pengiklan. "Kami pernah menayangkan program yang berbeda dari stasiun televisi lain, berupa talkshow membahas masalah agama. Namun, hanya sedikit iklan yang masuk," Reva menjelaskan. Karena itu, dalam bulan Ramadan sekarang ini, Anteve tak mau kalah menggeber acara hiburan bernuansa Ramadan.
Dana sebesar Rp 10 milyar dikucurkan untuk mengongkosi sejumlah paket acara bulan puasa Anteve, antara lain "Warung Bagito" yang disiarkan menjelang berbuka puasa dan "Sahur Dong". Anteve menargetkan perolehan iklan sekitar 24 slot dalam satu jam siaran. "Seandainya terisi 15 slot saja, mungkin sudah cukup," kata Reva Dedi Utama.
Sedangkan Trans TV mengaku pendapatan iklannya naik sekitar 30% selama sebulan menjelang Lebaran. "Kira-kira setara dengan kenaikan biaya produksi untuk program Ramadan," tutur Anita Wulandari, Head of Public Relations Trans TV. Sepanjang bulan suci sekarang ini, katanya, Trans TV memanjakan pemirsanya dengan enam program siaran Ramadan.
Antara lain, sinetron Bajaj Bajuri Spesial Ramadhan dan Pride of Islam Monuments, film dokumenter miniseri tentang bangunan monumental karya umat Islam di pelbagai penjuru dunia. Dua acara ini dibeli dari production house. Empat paket acara lainnya diproduksi sendiri oleh Trans TV, satu di antaranya "Yuk Sahur Yuk" yang merupakan paket acara produksi Trans TV termahal.
Hanya saja, produser acara "Yuk Sahur Yuk", Andi Fariadi, tak bersedia membeberkan ongkos produksi dan keuntungan yang didapat. "Itu rahasia perusahaan," ujar Andi Fariadi. Ia hanya menyebutkan, acara yang bertabur artis beken, seperti Maudy Koesnaedi, pelawak Miing, Didin, Parto Tegal, dan Tarzan, itu merupakan program unggulan Trans TV menjelang subuh.
Selama bulan puasa, stasiun televisi justru menayangkan program unggulan di waktu ayam berkokok itu. Sebab, selama sebulan itu, terjadi perubahan perilaku penonton televisi. "Di bulan puasa, waktu orang nonton televisi jauh lebih panjang," kata Manajer Humas SCTV, Budi Darmawan. Pada bulan puasa, masyarakat muslim mulai bangun sekitar pukul 02.00, menyiapkan hidangan sahur.Antara pukul 03.00 dan 04.00, jumlah orang yang berjaga makin bertambah banyak. Setelah bersantap sahur, ada yang pergi ke masjid, tapi banyak pula yang menonton televisi di rumah. "Nah, banyaknya orang nonton televisi inilah yang berusaha kami jaring," kata Budi Darmawan. Makin banyak penonton televisi, bertambah banyak pula jumlah pengiklan yang masuk.
Meskipun di saat sahur iklan-iklan berjejalan di layar kaca, menurut Budi, tak berarti prime time televisi lantas ikut bergeser. Waktu tayang unggulan di bulan puasa, katanya, hanya bertambah sekitar tiga jam. Biasanya dari pukul 18.00 sampai 22.00, naik menjadi pukul 15.00 hingga pukul 22.00. Karena orang pulang kerja lebih cepat, sekitar pukul 16.30. "Sampai di rumah, mereka nonton televisi, menunggu saat berbuka puasa," katanya.
Bertambah jam tayang utama ini mendorong stasiun televisi mengeluarkan biaya ekstra untuk mengisi program Ramadan. Biaya produksi SCTV selama bulan puasa, menurut Budi Darmawan, diperkirakan naik 10% dari sekitar Rp 36 millyar per bulan menjadi sekitar Rp 40 milyar.
Sedangkan biaya produksi RCTI selama bulan puasa diperkirakan mencapai sekitar Rp 50 milyar, termasuk biaya produksi reguler dan program Ramadan. "Jadi, ada kenaikan biaya produksi sekitar 20% dari biasanya," kata Manajer Humas RCTI, Teguh Juwarno.
Meskipun stasiun televisi swasta mengeluarkan biaya ekstra di bulan puasa, acara yang mereka sajikan tak jauh berbeda. "Karena stasiun televisi saling mengintip acara yang disukai penonton," kata Budi Darmawan. Jika dalam acara sahur hampir semua stasiun televisi menghidangkan acara humor, katanya, karena penonton televisi lebih menyukai hiburan yang diselingi dakwah.
Kentalnya nuansa hiburan dalam program Ramadan di layar kaca dinilai pakar komunikasi dari Universitas Indonesia, Ade Armando, sebagai hal wajar. Karena acara tersebut dimaksudkan untuk menemani orang sahur, kata Ade Armando, yang ditampilkan tidak membutuhkan pemikiran dan perenungan panjang. "Dengan adanya acara entertainment, mereka yang masih mengantuk jadi terbangun," katanya. Tapi, karena terlalu banyak tawa, kok rasanya nuansa sahur tahun ini jadi kurang afdol, ya?
Kembali ke Jojon Center
