November 15, 2005

Oktober Seru di TV7

Sumber: Tabloid Nova | Oktober 2005

Menjelang bulan Ramadhan, TV 7 menghadirkan program-program khusus untuk menemani para pemirsa saat menjalankan ibadah puasa. Acara tersebut antara lain, Bal-Balan yang dipandu oleh Rico Ceper. Program ini ditayangkan setiap pukul 17.00 ini mengemas permainan bola menjadi lebih menarik.

Selain itu, ada pula liputan seputar kegiatan masyarakat selama Ramadhan yang bertajuk Salamun Ya Ramadhan. Sementara Dorce Gamalama, Doyok, dan Tukul Arwana akan mengiringi pemirsa TV 7 menjalankan ibadah sahur mulai pukul 03.00 dalam program acara Salam Sahur.

Di samping mempresentasikan program acara Ramadhan yang hadir di bulan Oktober ini, dalam jumpa pers yang digelar di News Cafe Kuningan, Rabu (8/10) lalu, TV 7 juga meluncurkan program games Fotoplay dan Do itDo ityang masing-masing dipandu oleh Ferdy Hasan dan Nico Siahaan. Mulai tanggal 19 Oktober 2003 juga akan dihadirkan Deddy Corbuzier lewat acara Mentalis In Action. Sinetron Jumirah Ke Hollywood akan tayang mulai 24 Oktober 2003 setiap Jumat, jam 20.00-21.00.

Kembali ke Jojon Center
Posted by JC at 16:42:15 | Permanent Link | Comments (0) |

October 15, 2005

Mereka yang Baru Populer

Sumber: Minggu Pagi | Sabtu, 15 Oktober 2005.

Komeng Tolak Sahur Biar Penonton Tak Jenuh

DIHUBUNGI lewat telepon, pelawak Komeng mengaku pada bulan Ramadan ini ia menolak tawaran acara sahur. Alasannya, biar penonton tak jenuh.

Padahal sampai Lebaran ia ditinggal isteri, anak dan pembantunya mudik ke Malang Jawa Timur. Walhasil Komeng home alone di Jakarta. "Lebaran mungkin saya di rumah nenek. Kalau mau makan tinggal panggil tukang bakso" katanya.

Ngapain nggak ikut mudik? Kan sudah ngurangin job di teve?

Figur Publik ini pernah merasa seperti topeng monyet. "Tahun 2000 saya benar-benar kayak topeng monyet. Sepulang Salat Id saya diikutin anak-anak kecil sampai puluhan jumlahnya. Wah, repot banget deh. Mending saya istirahat di rumah sendiri, makan tidur dan jalan-jalan" ujar Komeng.

Hampir tiap hari "Uhuy" ini menyempatkan diri kumpul di basecamp bersama kelompok Cagur. "Saat puasa begini ada aturan di basecamp. Di antara kami nggak boleh saling menghina, bohong atau usil. Kalau melanggar didenda Rp 5000. Uangnya dimasukkan kotak, baru dibuka saat Lebaran untuk disumbangkan ke tempat ibadah terdekat" katanya.

Ngumpul banyak dong, kan yang namanya pelawak sulit untuk tidak usil? Hehehe...

Berusaha Tetap Waras Aming Belum Beli Mobil

TARIF Aming sekarang Rp 25 juta di luar Extravaganza. "Untuk ukuran mahasiswa, ini lebih dari cukup" kata pelawak yang masih kuliah di Jurusan Desain, FSRD ITB itu. "Duitku udah cukup buat beli mobil, tapi aku masih berusaha untuk tidak schock culture. Berusaha untuk tetap waras deh. Jadi aku milih untuk nggak mau takabur dulu. Belajar untuk tetap rendah hati. Setiap orang kan punya potensi untuk jadi sombong?"

Aming Supriatna Sugandhi mengaku masih hobi naik angkot. "Tapi aku mulai nggak berani jalan sendiri" lanjut pelawak kondang kelahiran Jakarta, 7 November 1980 itu. Takut dicubitin cewek, atau malah dijawil-jawil cowok, Ming?

Dikutuk LSM Wanita Narji Suka Ngelaba?

DI PANGGUNG dagelan, beberapa pelawak dinilai suka mengambil keuntungan dari bintang tamu perempuan. Salah satunya Narji Cagur. Pendagel ini pernah dikutuk LSM wanita karena kebiasaannya ngelaba itu.

"Kalau Narji melakukan itu, karena dunia semakin tidak keruan" katanya, lalu kalimat itu berlanjut tidak serius, dan memang keseharian Narji --kata teman-temannya-- sukanya ngocol tidak keruan. Di kamar rias pun ia melucu.

"Nggak tau ya, kenapa mulut jadi seperti ini" kata mahasiswa UNJ (dulu IKIP Jakarta) yang bersama grup lawaknya, Cagur atau Calon Guru merintis karir dari panggung lomba, pernah Juara III Lomba Humor ala Mahasiswa gelaran RCTI dan Juara II Lomba Humor Indonesia 2002.

"Melawak itu tidak gampang. Yang paling sulit adalah mencari tema yang pas. Karena itu, kemampuan kita mengendus karakter penonton, sangat menentukan," katanyal. Kali ini terdengar serius.

Tessy yang Dikangeni Tapi Kadang Juga Diemohi

INI contoh lain pelawak yang suka memanfaatkan kesempatan di panggung. Sering ditepuknya pinggul cewek teman mainnya, tak jarang pula ia menyakiti sesama pelawak misalnya dengan mencubit atau mendorong sungguhan. Maka Kabul Basuki alias Tessy sering disingkiri artis terutama bintang tamu perempuan. Di beberapa milis, banyak yang menyayangkan tindakan Tessy ketika berada di atas pentas.

"Yaa, itu kan hanya di panggung, biar lawakannya lucu. Tidak ada maksud apa-apa kok" kata suami Sri handayani yang bapak empat anak itu.

Tiga tahun jadi anggota KKO, 1961-63, Tessy lalu ambyur ke dunia lawak dan namanya mencuat bersama Srimulat di tahun 80-an. Padahal ia ndagel sejak 1964 gabung sandiwara keliling Kintamani, Ribut Rawit dan Lokaria, sebelum akhirnya mantap di Srimulat mulai 1979. "Saya bersyukur, dari melawak bisa memenuhi kebutuhan hidup. Termasuk menyekolahkan anak. Saya bangga. Artinya, profesi yang saya pilih tidak salah," tandas pria kelahiran 15 Juni 1942, yang hampir semua jari tangannya dipenuhi akik, "ada yang dikasih Gubernur, ada yang dikasih tukang bakso" katanya sambil ketawa.

Tukul Arwana Survive Hidup Itu dari Bawah

TERMASUK menonjol belakangan ini, adalah pelawak asal Semarang Tukul Arwana. Lejitannya mungkin akibat serial syur tayangan TV swasta di mana Tukul menjadi naratornya. Apa resep moncer menurut pria bernama asli Riyanta itu?

"Mau belajar," jawab Tukul yang mengakui Jakarta adalah gudang pelawak top, tapi berat sekali hidup di kota besar itu. "Jika tidak mampu survive, pasti akan tergilas" katanya. "Tapi ada hikmahnya juga hidup dari bawah. Kesusahan menjadikan kita terpacu"

Karena survive maka Tukul sering over mood sehingga muncul penilaian bahwa ia pelawak yang suka menjatuhkan kawan mainnya di panggung?

"Ih, kejam banget tuduhan itu. Kita kan sama-sama cari makan. Kalau aku aktif, itu karena diriku ini orang yang kreatif", katanya semi bercanda.

Ia pernah bikin Plesetan Pantun untuk MP. Ketika mengirim naskah itu, pendagel dengan potongan rambut seperti kotak amal ini gojegan, "Golekke job to. Mengko tak wenehi persenan. Tinimbang golek wong liyo, aku wae. Aku siap tampil habis-habisan. Hehehe...."

Kembali ke Jojon Center
Posted by JC at 15:21:50 | Permanent Link | Comments (0) |

November 14, 2003

Saling Intip Menjelang Subuh

Sumber: Gatra | 14 November 2003

Waktu Nonton Lebih Panjang (GATRA/Suci Wulandini)JARUM jam baru lewat beberapa menit dari angka 12 dini hari, Senin pekan lalu. Namun, di saat banyak warga Jakarta mulai bebenah tidur itu, kesibukan justru mulai menyeruak di Studio Penta di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Puluhan kru SCTV menyiapkan acara "Sahur Kita", yang akan ditayangkan dua setengah jam kemudian. Di ruang kontrol lantai II, produser pelaksana acara itu, Renoningtyas, terlihat berbincang serius dengan sutradara Sukendro.

Sekitar pukul 01.00, Ulfa Dwiyanti sang pembawa acara "Sahur" muncul di lantai II Penta. Padahal, acaranya baru dimulai satu setengah jam kemudian. "Setiap hari saya bangun pukul 12 malam. Siangnya tidur," ujar Ulfa. Beberapa menit setelah Ulfa, artis pendukung acara mulai berdatangan.

Djaja Miharaja masuk kamar rias, setelah makan sahur di kantin Studio Penta. Disusul Puput Novel, Jodhi, dan Eko Patrio. Lima menit menjelang tayang, kru SCTV menyerukan agar pendukung acara siap di posisi masing-masing. Selajutnya kamera membidik Eko dan Ulfa. Duet "Sahur Kita" ini tampil mengalir dengan gaya ngocol-nya.

Begitulah setiap malam berulang selama bulan Ramadan di Studio Penta. Mulai tengah malam hingga subuh tiba, tak kurang dari 60 kru SCTV bergumul. Saking padatnya acara, tiap Ramadan tiba, kehidupan Studio Penta berlangsung nonstop 24 jam setiap hari. Selain "Sahur Kita", di sana juga digarap "Sang Bintang", "Mimbar Agama", dan "Centro Campo Liga Italia".

Khusus untuk program Ramadan, SCTV juga menayangkan sinetron berjudul Lorong Waktu, Surga di Telapak Kaki Ibu, dan Jalan Lain ke Sana. Ada juga "Cahaya-Mu", yang dipandu Emha Ainun Nadjib, dan "Tauziah dan Zikir", dibimbing Arifin Ilham. Namun, hanya "Sahur Kita" yang disajikan dalam format siaran langsung, pukul 02.30 hingga 04.30, dan digarap full tawa.

Sahur Dong (Dok. SCTV)"Sahur Kita" muncul pertama enam tahun silam, dan telah mengalami tiga kali perubahan format. Awalnya hadir dengan format talkshow ala TVRI, pembawa acara berdialog dengan seorang ustad selaku narasumber. Tahun kedua, diubah menjadi format siaran radio yang dibawakan Ulfah dan Eko. Ada segmen kirim salam, permintaan lagu, dan lomba pantun. "Sahur Kita"-lah yang jadi pionir acara sahur bergaya guyon.

Tahun ini, "Sahur Kita" ditambah fragmen keluarga yang dibintangi Djaja Miharja, Omaswati, dan Jodhi. Bintang tamunya berganti-ganti setiap episode. Di akhir fragmen, muncul seorang yang berperan sebagai penengah dan sekaligus memberi jalan bagi persoalan yang dihadapi "keluarga Djaja". Segmen dakwah ini hanya berlangsung sekitar empat menit dari seluruh acara yang menelan waktu selama dua jam. "Tapi, kalau dicermati secara keseluruhan, dakwahnya tidak hanya di empat menit itu. Fragmen juga mengemban misi dakwah, kuisnya juga tentang pengetahuan agama," kata Anto Botak, Produser "Sahur Kita".

Pada jam tersebut, hampir semua stasiun televisi sibuk menggarap acara siaran langsung. Bahkan TV7 menyewa studio selama satu bulan, seharga Rp 800 juta, khusus untuk syuting program Ramadan. Dari studio yang terletak di Wisma Mampang, Jalan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, itulah TV7 menggarap siaran langsung "Salam Sahur".

Selama satu setengah jam, "Salam Sahur" hadir dalam format komedi yang diperankan Dorce Gamalama, Tukul Arwana, Bolot, dan Cut Mini. Di sela-sela banyolan segar, "Salam Sahur" menyisipkan pesan agama yang disampaikan Ustad Anwar Sanusi. Paket acara itu dikerjakan bersama Rumah Produksi Ekomando milik Eko Patrio. "Biayanya Rp 150 juta hingga Rp 200 juta untuk sekali tayang," ujar Eko, yang menolak menyebutkan harga jual "Salam Sahur".

"Kami membeli konsep dari Ekomando, produksinya kami kerjakan sendiri," kata Azzust, Executive Producer TV7, yang juga penanggung jawab "Salam Sahur", kepada Indi Cristy dari GATRA. Tak kurang dari 25 kru TV7 dan 10 awak Ekomando terlibat dalam proses produksi di Wisma Mampang.

Salam Sahur (Dok. TV7)Bukan hanya TV7 yang menayangkan siaran langsung sahur dari Wisma Mapang, Anteve juga menyiarkan acara "Sahur Dong" secara live. Tak berbeda dari acara sahur stasiun televisi lainnya, "Sahur Dong" juga kental nuansa hiburannya dibandingkan dengan dakwahnya. "Habis mau bagaimana lagi, pemirsa televisi lebih menyukai acara hiburan untuk menemani makan sahur," kata Reva Dedi Utama, penanggung jawab program Ramadan Anteve.

Lebih dari itu, acara hiburan di saat sahur lebih banyak diminati pengiklan. "Kami pernah menayangkan program yang berbeda dari stasiun televisi lain, berupa talkshow membahas masalah agama. Namun, hanya sedikit iklan yang masuk," Reva menjelaskan. Karena itu, dalam bulan Ramadan sekarang ini, Anteve tak mau kalah menggeber acara hiburan bernuansa Ramadan.

Dana sebesar Rp 10 milyar dikucurkan untuk mengongkosi sejumlah paket acara bulan puasa Anteve, antara lain "Warung Bagito" yang disiarkan menjelang berbuka puasa dan "Sahur Dong". Anteve menargetkan perolehan iklan sekitar 24 slot dalam satu jam siaran. "Seandainya terisi 15 slot saja, mungkin sudah cukup," kata Reva Dedi Utama.

Sedangkan Trans TV mengaku pendapatan iklannya naik sekitar 30% selama sebulan menjelang Lebaran. "Kira-kira setara dengan kenaikan biaya produksi untuk program Ramadan," tutur Anita Wulandari, Head of Public Relations Trans TV. Sepanjang bulan suci sekarang ini, katanya, Trans TV memanjakan pemirsanya dengan enam program siaran Ramadan.

Antara lain, sinetron Bajaj Bajuri Spesial Ramadhan dan Pride of Islam Monuments, film dokumenter miniseri tentang bangunan monumental karya umat Islam di pelbagai penjuru dunia. Dua acara ini dibeli dari production house. Empat paket acara lainnya diproduksi sendiri oleh Trans TV, satu di antaranya "Yuk Sahur Yuk" yang merupakan paket acara produksi Trans TV termahal.

Hanya saja, produser acara "Yuk Sahur Yuk", Andi Fariadi, tak bersedia membeberkan ongkos produksi dan keuntungan yang didapat. "Itu rahasia perusahaan," ujar Andi Fariadi. Ia hanya menyebutkan, acara yang bertabur artis beken, seperti Maudy Koesnaedi, pelawak Miing, Didin, Parto Tegal, dan Tarzan, itu merupakan program unggulan Trans TV menjelang subuh.

Banyak Diminati Pengiklan (GATRA/Novie Sartyawan)Selama bulan puasa, stasiun televisi justru menayangkan program unggulan di waktu ayam berkokok itu. Sebab, selama sebulan itu, terjadi perubahan perilaku penonton televisi. "Di bulan puasa, waktu orang nonton televisi jauh lebih panjang," kata Manajer Humas SCTV, Budi Darmawan. Pada bulan puasa, masyarakat muslim mulai bangun sekitar pukul 02.00, menyiapkan hidangan sahur.

Antara pukul 03.00 dan 04.00, jumlah orang yang berjaga makin bertambah banyak. Setelah bersantap sahur, ada yang pergi ke masjid, tapi banyak pula yang menonton televisi di rumah. "Nah, banyaknya orang nonton televisi inilah yang berusaha kami jaring," kata Budi Darmawan. Makin banyak penonton televisi, bertambah banyak pula jumlah pengiklan yang masuk.

Meskipun di saat sahur iklan-iklan berjejalan di layar kaca, menurut Budi, tak berarti prime time televisi lantas ikut bergeser. Waktu tayang unggulan di bulan puasa, katanya, hanya bertambah sekitar tiga jam. Biasanya dari pukul 18.00 sampai 22.00, naik menjadi pukul 15.00 hingga pukul 22.00. Karena orang pulang kerja lebih cepat, sekitar pukul 16.30. "Sampai di rumah, mereka nonton televisi, menunggu saat berbuka puasa," katanya.

Bertambah jam tayang utama ini mendorong stasiun televisi mengeluarkan biaya ekstra untuk mengisi program Ramadan. Biaya produksi SCTV selama bulan puasa, menurut Budi Darmawan, diperkirakan naik 10% dari sekitar Rp 36 millyar per bulan menjadi sekitar Rp 40 milyar.

Sedangkan biaya produksi RCTI selama bulan puasa diperkirakan mencapai sekitar Rp 50 milyar, termasuk biaya produksi reguler dan program Ramadan. "Jadi, ada kenaikan biaya produksi sekitar 20% dari biasanya," kata Manajer Humas RCTI, Teguh Juwarno.

Meskipun stasiun televisi swasta mengeluarkan biaya ekstra di bulan puasa, acara yang mereka sajikan tak jauh berbeda. "Karena stasiun televisi saling mengintip acara yang disukai penonton," kata Budi Darmawan. Jika dalam acara sahur hampir semua stasiun televisi menghidangkan acara humor, katanya, karena penonton televisi lebih menyukai hiburan yang diselingi dakwah.

Kentalnya nuansa hiburan dalam program Ramadan di layar kaca dinilai pakar komunikasi dari Universitas Indonesia, Ade Armando, sebagai hal wajar. Karena acara tersebut dimaksudkan untuk menemani orang sahur, kata Ade Armando, yang ditampilkan tidak membutuhkan pemikiran dan perenungan panjang. "Dengan adanya acara entertainment, mereka yang masih mengantuk jadi terbangun," katanya. Tapi, karena terlalu banyak tawa, kok rasanya nuansa sahur tahun ini jadi kurang afdol, ya?

Kembali ke Jojon Center
Posted by JC at 17:21:26 | Permanent Link | Comments (0) |