February 24, 2006

Jalan Keluar Menyiasati Kerumunan Iklan

Sumber: Kompas | 10 Mei 2005

Tiap hari pemirsa disuguhi sekitar 9.000 spot iklan di berbagai stasiun televisi. Agar lebih mengena, kenapa tidak buat sinetron saja seperti merek Roma?

Sekali-kali tanyalah ke pemasang iklan kenapa memilih media televisi untuk beriklan. Satu jawaban yang pasti, media tersebut memiliki jangkauan paling luas. Coba tanya kembali, efektifkah? Jawabannya tentu bisa ya, bisa juga tidak. Efektif, karena seperti alasan di atas bisa menjangkau semua lapisan. Tapi, bagaimana jika tiap hari pemirsa televisi disuguhi ribuan spot iklan dari ratusan merek? Barangkali hanya sedikit yang nyangkut di benak mereka. Belum lagi, tiap kali break, pemirsa lebih suka switch ke stasiun TV lain untuk mengintip acara berbeda. Bisa-bisa, dana yang digelontorkan menguap percuma tanpa hasil.

Fenomena seperti inilah yang menjadi renungan produsen biskuit Roma untuk beriklan di televisi. “Kebayang nggak, berapa stasiun televisi yang ada? Berapa spot iklan sehari? Bayangkan, konsumen dibombardir 9.000 spot sehari. Kalau kita hanya menjadi paritas, maka akan termakan oleh zaman,” kata Yanty Melianty, Marketing Manager Biscuit, PT Mayora Indah Tbk.

Benar juga. Ketimbang cuma mengandalkan iklan spot, kenapa tidak langsung saja diangkat ke sinetron. Yang pasti, kalau dikemas dalam bentuk cerita sinetron, tidak perlu lagi khawatir direcoki atau bersaing dengan iklan lain yang jumlahnya membludak itu. Dengan kemasan sinetron, pemirsa pun bukan melihat iklan, melainkan melihat tontonan. Atas dasar pemikiran itulah, PT Mayora memproduksi sinetron Semua Suka Roma (S2R). Sebuah judul yang langsung mengingatkan pemirsa kepada merek biskuit Roma.

Menurut Yanty, alur cerita dan karakter para talent S2R disesuaikan dengan value merek. Dalam hal ini, kisahnya berfokus pada seorang calon ibu yang cerdas, matang dan peduli lingkungan—sesuai dengan karakter merek Roma yang keibuan. Sebagai sinetron yang mengusung sebuah merek, seluruh produksi melibatkan sang produsen. Mulai dari naskah cerita, kostum pemain, dan pemilihan talent, pihak Roma ikut terlibat. Boleh jadi, PT Mayora harus ketat, karena sinetron ini mengusung nama besar brand Roma. Salah sedikit saja bisa menjadi blunder.

Sang tokoh utama, Ine Dewi, yang memerankan tokoh Roma diplot sebagai figur yang bisa membawakan persepsi merek Roma, yaitu seorang gadis yang smart (mahasiswi) dan mature. Sinetron ini juga didukung oleh Tukul Arwana (Pak Roma) dan Yurike Prastika (Ibu Romi) dan Asri (Romi). Lalu, kenapa berjudul Semua Suka Roma? Alasannya, si pemeran utama berkarakter sopan, tulus dan baik. Dengan kata lain, produsen ingin menciptakan persepsi “hero” di masyarakat lewat peran Roma dalam sinetron tersebut sesuai dengan karakter merek Roma. “Hero itu tidak mesti perang mnelawan korupsi. Berlaku jujur, baik mampu menasihati pun sudah hero,” papar Yanty.

Brand Investment
Menurut Yanty, sebagai orang marketing, dia dituntut melakukan terobosan dalam aktivitas brand investment yang punya nilai dan sejalan dengan brand dan corporate culture. Pilihan itu kemudian jatuh ke dalam bentuk sinetron. “Kami kan orang marketing tentu doing bisnis. Kami enggak mungkin membuat sesuatu yang bukan untuk tujuan brand dan tujuan penjualan. Ujung-ujungnya adalah sebuah brand investment, tapi yang punya value dan sejalan dengan brand dan corporate culture ya. Kami enggak mau bikin sesuatu yang merugikan masyarakat,” katanya.

Sebagai produsen yang punya komitmen terhadap pilihan tontonan, sambung Yanty, pihaknya merasa prihatin dengan sejumlah sajian televisi. Rata-rata, pemasang iklan lebih melihat rating untuk memasang iklan. Sementara, rating tertinggi rata-rata ada pada tontonan yang kurang edukatif seperti cerita jahat, kriminal dan misteri. Makanya, format S2R dibuat dalam bentuk sinetron komedi situasi. Tujuannya agar bisa ditonton semua anggota keluarga

Ide pembuatan sinetron ini bermula dari keinginan membangun merek Roma tidak melalui iklan. Artek n Partners yang menjadi mitra PT Mayora Indah diminta untuk mencari alternatif. Ketika digodok, yang juga melibatkan PH milik Jeremy Thomas, muncul gagasan dalam bentuk sinetron.

Sebelum sampai ke bentuk yang sekarang, papar Yanty, sempat muncul ide untuk membuat Warung Roma Warung Gosip. Tapi, gagasan ini mental karena tidak mendidik. PT Mayora ingin hiburan yang educated dan sopan. Lahirlah sinetron Semua Suka Roma.

Saat ini, produksi sinetron tersebut sudah lima episode dari 13 episode dan ditayangkan setiap Sabtu pukul 17.00 WIB si SCTV. Maunya, pihak Mayora ditayangkan pas prime time sekitar pukul 18.30. Hanya saja tidak dapat slot. Meski begitu, menurut pengakuan Yanty, rating S2R sudah mencapai angka 3.

Berapa bujet yang digelontorkan untuk membuat sinetron tersebut? Yanty enggan menyebutkan angkanya. Yang pasti memang sangat besar. Sebagai tayangan yang mengusung sebuah merek, konsep produknya pun ke SCTV bukan jualan. Tetapi, PT Mayora bisa meyakinkan SCTV, sinetron itu punya memiliki nilai jual. Karenanya, kerja sama dengan pihak stasiun televisi dibuat dalam bentuk semi blocking.

Setidaknya, sinetron ini tidak hanya akan membentuk relationship dan loyal customer. Lebih jauh, dapat pula membangun “advocator customer”. Kalau sudah begitu, pelanggan menjadi pembela terdepan sekaligus juru bicara merek secara suka rela. Rekomendasi pelanggan ini adalah alat promosi yang amat efektif dan ampuh dalam mempengaruhi pelanggan prospek. Maka tidak berlebihan jika Yanty berharap S2R bisa menciptakan loyalitas konsumen terhadap merek Roma.

Tapi, asal tahu saja, Roma bukanlah produk pertama mengangkat merek dalam bentuk sinetron. Sebelumnya, ada Sampoerna Hijau yang juga diangkat ke layar kaca oleh Karnos Film lewat lima personel Geng Hijau yang lucu dan unik.(Tajwini Jahari & Miranda Hutagalung, Majalah Marketing)


Posted by JC at 18:41:36 | Permanent Link | Comments (0) |

December 28, 2003

Ojo Dumeh Ojo Dumeh Anugerah Media Kebudayaan

Sumber: Republika | 28 Desember 2003

Sastrawan Putu Wijaya boleh tersenyum. Salah satu karya fiksinya yang dituangkan dalam sinetron Ojo Dumeh, sukses melambungkan nama Surya Citra Televisi Indonesia (SCTV). Karena Ojo Dumeh, salah satunya, SCTV berhak atas Anugerah Media Kebudayaan untuk Televisi Indonesia kategori sinetron, dari Kementerian Negara Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar).

Ojo Dumeh, dalam sinopsisnya yang dirilis SCTV, adalah nama sebuah pesanggrahan yang dikelola oleh bapak dan ibu Sastro. Dalam menjalankan kegiatan sehari-harinya, mereka dibantu oleh Trinil dan Mini yang genit. Ada juga tokoh Klobot dan Arjuna, pembantu keluarga Pak Sastro.

Namun, di pesanggrahan Ojo Dumeh, ada juga penghuni lain yaitu makhluk halus bernama Nimas Ratu, yang konon meninggal akibat bunuh diri setelah dikhianati sang suami. Makhluk halus ini bisa baik, tetapi bisa juga garang apabila ada orang yang berniat jahat terhadap keluarga Pak Sastro.

Di pesanggrahan inilah berbagai persoalan timbul, seiring dengan silih bergantinya tamu-tamu yang menginap. Setiap episode baru tentu membawa cerita baru, tetapi tentu tetap dengan benang merah pada peristiwa dan kejadian di pesanggrahan. Pemeran utamanya adalah Inneke Koesherawati, Tarsan Srimulat, Tati Wardiono, dan Tukul Arwana.

Trofi karya pematung Iriantine Karnaya menandai acara pengalungan Anugerah Media Kebudayaan itu di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Ahad dua pekan lalu. Kegiatan ini baru pertama kali digelar dan khusus dipersembahkan untuk media televisi.

Panitia membagi acara bernuansa kebudayaan di televisi ke dalam lima kategori. Meliputi kategori sinetron, feature, acara anak, variety show, dan seni pertunjukkan. Lima kategori anugerah itu disabet secara bagi rata oleh lima stasiun televisi.

Pakar komunikasi dari LP3Y, Drs Ashadi Siregar, mengetuai dewan juri yang beranggotakan budayawan, seniman, dan pengamat televisi. Mereka adalah Prof Dr Edi Sedyawati, Prof Dr Harsono Suwardi, Drs Yasraf Amir Piliang MA, dan Drs Ade Armando.

Selama dua bulan terakhir, dewan juri melek di depan televisi. Mereka memantau dan menilai program-program tayangan yang mengandung nilai-nilai budaya nasional. Identifikasi mereka adalah mencari program rutin. Dari situ kemudian diukur volume serta substansi budayanya.

Walhasil, akhirnya delapan stasiun televisi diboyong ke babak nominasi. Untuk kategori sinetron, terdapat SCTV dengan tayangan Ojo Dumeh, Juragan Lenong, dan Pesan Gado-gado.

Nomine kedua adalah Trans TV yang mengusung sinetron komedi situasi masyarakat Betawi, Bajaj Bajuri. Dan pada nomine ketiga adalah ANtv dengan tayangan Leila Majenun dan Gado-gado Metropolitan. Pemenang untuk kategori sinetron ini diraih SCTV!

Pada kategori feature, nominenya terdiri dari TV7 (Jejak Petualang), TVRI (Dokumenter), dan Metro TV (Oasis, Archipelago, Expedition, dan Maestro). Yang meraih anugerah adalah Metro TV.

Kategori acara anak, muncul nominasi yang terdiri dari Trans TV (Rahasia Anak), Indosiar (Sahabat Sejati dan Celoteh Anak), serta TVRI (Pentas Anak). Indosiar keluar sebagai pemenangnya.Untuk kategori variety show, cuma ada dua nominasi, yakni TV7 dengan Es Campur Es dan TPI dengan Pasar Rakyat. TPI tampil sebagai pemenangnya.

Pada kategori seni pertunjukkan, juga hanya dua nomine. Masing-masing Indosiar yang dikenal konsisten menayangkan Ketoprak dan Wayang Kulit, serta TVRI dengan program Musik Pop Daerah, Wayang Kulit, dan Wayang Orang. TVRI mengalahkan Indosiar!

''Anugerah Kebudayaan ini diberikan untuk televisi yang dianggap berdedikasi terhadap kebudayaan,'' kata Menteri Negara Budpar, I Gede Ardhika. Ardhika kemudian buru-buru mengatakan bahwa pada tahun-tahun berikutnya anugerah serupa sekalgus diberikan kepada media cedtak dan radio. Joko Edhi Sucipto, sang produser kegiatan tersebut, ikut menegaskan rencana pemberian anugerah kebudayaan yang diperluas itu.

''Kementerian Budpar memiliki program pemberian Anugerah Kebudayaan untuk media massa. Namun karena banyak keterbatasan, untuk tahun ini baru bisa diberikan kepada televisi,'' kata Joko kepada Republika.

Malah, untuk tahun berikutnya, lanjut Joko, tidak hanya media cetak dan elektonik yang akan mendapat anugerah, termasuk media luar ruang (iklan misalnya bilbor, spanduk, dan reklame), serta publik forum (seperti seminar). ''Nantinya, kami bisa memberikan penghargaan kepada orang perorangan, seperti pembicara dalam seminar yang dianggap melakukan mediasi kebudayaan,'' tambah Joko.

Mengedepankan televisi untuk mendapatkan anugerah, agaknya tidak lepas dari kecemasan masyarakat yang makin meluas. Yakni terhadap banyak tayangan sampah yang bisa menimbulkan erosi budaya dan dekadensi moral. Belakangan sampai muncul gugatan dan pertanyaan sinis kepada para pengelola televisi tentang program yang ditayangkannya. ''Makhluk apakah insan televisi itu? Apakah mereka manusia yang punya otak, hati, dan keluarga, atau robot?'' kata sejumlah pemirsa.

Dalam bahasa halus, Joko menguraikan, betapa media pandang dengar (televisi) dalam pembentukan perilaku anak bangsa. Namun, televisi meliki pakem sebagai media pembentukan perilaku yang berdiri di atas paradigma industri.

''Untuk menjadikan televisi sebagai industri berbudaya, mustahil. Kami tidak bermaksud untuk menarik mundur fungsi televisi dengan menjadikannya media kebudayaan. tapi bagaimana bisa memberikan muatan kebudayaan pada pesan-pesan yang di sampaikannya,'' tutur Joko.

Kekurangan lain dalam penyelenggaraan anugerah kali ini adalah belum jelasnya kriteria penilaian. Joko mengungkapkan kritik dari seniman Adhie Massardi yang menilai kriteria penilaian lebih condong ke program (performance) ketimbang substansi (sistem nilai). ''Kalau begitu yang dianggap budayawan adalah programer,'' kata Adhie.

Joko menerangkan bahwa untuk tahap awal ini memang sulit untuk menentukan kriteria. Sebab, definisi kebudayaan pun dalam tayangan televisi masih rancu. Tayangan ketoprak misalnya, belum tentu memiliki substansi kebudayaan kalau isinya penuh dengan humor.

Tapi pada garis besarnya, menurut Joko, kriteria penilaian mengacu pada nilai-nilai yang diterima publik sebagai pesan kebudayaan. ''Memang masih diperlukan pakem-pakem dan parameter lebih lanjut,'' katanya. Joko juga mengangankan, Anugerah Kebudayaan sebaiknya mirip Oscar. Yakni, semua pihak yang terlibat dalam proses mediasi kebudayaan mendapatkan trofi.

''Tapi, so far so good, lepas dari segala kelemahan dan kekurangannya, Anuegerah Media Kebudayaan Kali ini masih lebih baik ketimbang tidak dilaksanakan,'' katanya. Tapi, yang tidak diharapkan, kegiatan itu terlalu dipaksakan. Misalkan,Kantor Meneg Budpar harus menghabiskan anggaran di akhir tahun. Kalau ternyata begitu, bisa dituding seperti judul sinetron Putu Wijaya, namanya ojo dumeh! (zam )

Kembali ke Jojon Center

Posted by JC at 16:31:36 | Permanent Link | Comments (0) |

July 11, 2003

Ineke Koesherawati, Ditugasi Mengelola Penginapan Berhantu

Sumber: CyberTainment | 11 Juli 2003

Setelah meraih sukses lewat sinetron Kenapa Harus Inul?, SCTV kembali menghadirkan sinetron terbaru yang berjudul Pesanggrahan Ojo Dumeh (POD).

Uniknya sinetron ini tak hanya menawarkan sebuah jalinan cerita drama seperti biasanya akan tetapi juga memadukan unsur komedi dan mistik. Alhasil, sebuah tontonan yang menghibur dipastikan akan tergambar dalam karya terbaru seniman Putu Wijaya ini.

Nama Putu Wijaya sebagai sutradara juga menjadi garansi keapikan ceritanya. POD dibuat Putu selain untuk menghibur juga untuk mengingatkan para penontonnya tentang sebuah mitologi Jawa dari kata Ojo Dumeh yang berarti jangan sombong atau takabur.

Serial produksi Persari Film yang berdurasi 30 menit ini menampilkan sederetan bintang terkenal. Mulai dari Ineke Koesherawati (sebagai Trinil), Tarzan (Pak Sastro), Tatik Wardiono (Bu Sastro), Tukul Arwana (Totok), Basuki (Klobot), Bedor (Arjuna) hingga Tasya yang berperan sebagai Nimas Ratu, sosok hantu penghuni penginapan.

Uniknya lagi, pada setiap episode sinetron ini menghadirkan bintang tamu yang berbeda. Misalnya pada episode pertama hadir Nazar Amir dan Titiek Sandhora yang diceritakan sebagai pasangan suami-isteri dari Jakarta yang menginap di situ. Keduanya sangat romantis hingga masalah muncul ketika sang suami tertarik pada hantu Nimas Ratu.

Inti kisahnya diawali dengan pengenalan pada keluarga Pak Sastro dan istrinya. Mereka adalah pemilik Ojo Dumeh, penginapan yang terletak di pinggiran Yogyakarta. Pak Sastro menginginkan anak tunggalnya, Totok, mengelola penginapan. Sayang, Totok lebih suka bermimpi tentang masa depannya dan ogah-ogahan mengelola warisan orangtuanya. Untungnya Trinil, isteri Totok, tahu keburukan suaminya. Ia juga merasa sayang bila mereka menyia-nyiakan warisan orangtua. Akhirnya justru Trinil-lah yang mengelola penginapan tersebut.

Trinil dibantu Klobot dan Arjuno dalam mengelola penginapan. Keduanya juga kadang bertindak sebagai seksi repot yang mengerjakan apa saja. Dari dua tokoh inilah kelucuan demi kelucuan dibangun. Dari mereka pula segala kekonyolan lahir. Sebaliknya, selain suka bersaing dan saling menjatuhkan, Klobot dan Bendor pun saling mengasihi.

Penginapan ini sebenarnya menyimpan misteri. Di kamar paling ujung, pernah terjadi seorang perempuan bunuh diri. Namanya Nimas Ratu. Ia bunuh diri setelah dikhianati suaminya. Nimas kerap menampakkan diri pada pengunjung penginapan. Kadang sebagai gadis cantik, kadang sebagai mahluk jejadian yang menakutkan. Tentu saja tergantung dengan siapa ia berhadapan. Dengan orang baik atau orang jahat.

Sampa dimana menariknya serial barunya Putu Wijaya ini, saksikan langsung di layar SCTV mulai Rabu (16/7) pekan depan setiap pukul 18.30 WIB. (19/01)

Kembali ke Jojon Center
Posted by JC at 17:25:10 | Permanent Link | Comments (0) |