Wednesday, January 12, 2005

Tukul dan Tarzan Tampil ala Polisi

Sumber: Kedaulatan Rakyat | 12 Januari 2005

SEJUMLAH artis penyanyi dan lawak dari Jakarta ikut menyemarakkan acara serah terima jabatan Kapolres Sleman dari pejabat lama AKBP Drs H Sigit Sudarmanto SH MM kepada pejabat baru AKBP Drs Moechgiyarto SH, Senin (10/1).

Para artis itu di antaranya pencipta dan penyanyi lagu melankolis Oby Messakh, Imam S Arifin, Sam D’Lloyd, Tarzan, Tukul Arwana dan Marwoto Kawer. Sebagian dari para artis ibukota itu cukup dekat dengan mantan orang nomor satu di Polres Sleman. Perkenalan itu terjalin sejak AKBP Drs H Sigit Sudarmanto SH MM menjabat Kapolres KP3 Tanjungpriok.

Dalam beberapa kali kehadirannya di Polres untuk memeriahkan suatu acara, Tarzan mengaku sering bersantai bersama dengan Sigit Sudarmanto ketika masih di Jakarta. Pertemanan itu ternyata terus berlanjut hingga ketika Pamen Polri lulusan Sespim angkatan ke-34 tahun 1998 ini berdinas di Polres Sleman. Kebetulan, Sigit Sudarmanto yang punya hobi motor gede itu juga termasuk perwira Polri yang suka nyanyi. Begitu pula istrinya, Hj Sulistyani.

Agaknya, pejabat baru Kapolres Sleman, AKBP Drs Moechgiyarto SH juga tak kalah dengan seniornya itu dalam hal kepiawaiannya menyanyi. Terbukti, pada hari pertama menjabat Kapolres Sleman, Senin (10/1) ia pun langsung turun ikut melantunkan salah satu lagu ciptaan Chrisye.

Oby Messakh yang mendapatkan kesempatan pertama tampil pada acara itu melantunkan lagu-lagu ciptaannya sendiri, antara lain berjudul ‘Kisah Kasih di Sekolah’. Sedangkan Imam S Arifin membawakan sejumlah lagu dangdut. Begitu pula Sam D’Lloyd yang menyanyikan lagu ciptaannya yang terpopuler, antara lain berjudul ‘Tak Mungkin’ dan ‘Mengapa Harus Jumpa’. Para artis itu sesekali juga mengajak hadirin ikut berjoged bersama maupun sekadar menyanyikan bait reffrainnya.

Tak kalah segarnya adalah penampilan lawak Tarzan, Tukul dan Marwoto. Kedua pelawak disebut pertama itu bahkan juga berpenampilan ala polisi, dengan berpakaian seragam Polri lengkap dengan atribut dan baretnya. (Sgo)-o.

Kembali ke Jojon Center

Posted by JC at 16:48:00 | Permalink | No Comments »

Tuesday, January 11, 2005

Konser HUT ke-10 Indosiar

Sumber: Harian Terbit | 11 January 2005 - 14:22
MEMERIAHKAN HUT ke-10 Indosiar pada 11 Januari 2005 digelar konser musik bertema Semarak 10 Tahun Indosiar, yang disiarkan langsung dari tiga kota besar Surabaya, Jakarta dan Bandung.

Humas Indosiar Gufron Syakaril, mengatakan, acara yang akan digelar di tiga kota ini, berformat variety. Acara tersebut menampilkan tiga MC, Indro Warkop, Tukul Arwana dan Adi Nugroho. Ketiga MC ini akan tampil dari tempat yang berbeda, Indro (Jakarta), Tukul (Surabaya) dan Adi Nugroho (Bandung)

“Mungkin acara HUT Indosiar tahun ini, dirayakan tidak semeriah tahun sebelumnya. Sehubungan kita masih dalam suasana duka untuk masyarakat Aceh dan Sumatera Utara yang tertimpa musibah gempa dan gelombang Tsunami,” ujar Gufron.

Sementara sederet artis yang akan tampil memeriahkan HUT Indosiar adalah Ari Laso dan Band, Glenn Fredly, Rio Febrian, serta Agnes Monica (Jakarta). Sedangkan di Surabaya sejumlah artis dari jalur musik dangdut akan tampil Rhoma Irama beserta kelompok OM Soneta, Kristina, Erie Susan, Nelly Agustine,

Panggung lainnya yang menjadi arena hiburan HUT Indosiar adalah kota Bandung. Di kota kembang ini akan tampil sederet kelompok musik papan atas seperti GIGI, Sheila On 7, PSM dan Universitas Parahyangan. “Selain menggelar acara musik di tiga kota, Indosiar menyediakan hadiah 100 unit sepeda motor serta 10 unit mobil. Hadiah ini akan diberikan kepada pemirsa yang berhasil memenangkan kuis,” ujar Gufron Syakaril. (dar)

Kembali ke Jojon Center

Posted by JC at 17:17:21 | Permalink | No Comments »

Thursday, December 30, 2004

Artis Peduli Korban Tsunami

Sumber: Tabloid Nova | Desember 2004

Bumi Aceh luluh lantak diterjang gelombang tsunami. Semua ikut menangis. Termasuk para artis yang identik dengan kehidupan glamour dan berkilau. Tak sekadar prihatin, mereka juga ikut mengurangi penderitaan rakyat Aceh, mulai dari penggalangan dana hingga mengirim doa.

KLIK - Detail DUET REZA LAKU RP 100 JUTA
Kota yang angkuh. Kapal tak singgah lagi. Dermaga jadi bangkai. Besi-besi berkarat. Cinta demi cinta tenggelam di laut ini. Demikian sajak karya Hasbi Burman, seorang tukang parkir di Rex Banda Aceh, yang dibacakan Helmy Yahya saat memandu malam dana yang digelar oleh Solidaritas Artis Peduli Aceh di News Cafe Kemang, Kamis (30/12) malam. Terlambat satu jam dari rencana semula, pergelaran bertajuk Airmata Negeriku ini dibuka jam 21.00 dengan tari tradisional Aceh, Saman. Usai tari pembuka, 12 artis dipimpin oleh Peggy Melati Sukma, dalam busana serba hitam berjalan menuju panggung dengan lilin di tangan. Setelah melantunkan lagu Tanah Airku, Peggy membacakan sebait puisi yang diberi judul Airmata Negeriku. Lebih kurang puluhan menit Peggy membaca puisi di atas panggung, diselang dengan lagu Gugur Bunga yang juga dinyanyikan sendiri oleh kekasih Teuku Zacky ini.

Puluhan artis hadir malam itu, di antaranya pasangan Beby Romeo dan Meisya Najelina, Ratna Listi, Jane Shalimar, Sarah Azhari, Dessy Ratnasari, Iyeth Bustami dan Eka “Gaul”, Abdee, Bimbim dan Ivan “Slank”, Kristina, Bella Saphira, Tamara Blezinsky dan Teuku Rafli, Cut Tari, Krisna Mukti, Indra Brasco dan Mona Ratuliu, serta Nia Daniati bersama suaminya, pengacara Farhat Abbas. Sebagian besar dari mereka menyumbangkan kemampuannya tanpa memungut bayaran.

KLIK - Detail Dessy Ratnasari menyumbangkan suara, diikuti oleh si cantik Bella Saphira yang meskipun dalam keadaan sakit dan bersuara parau, tetap antusias menyanyi untuk Aceh. Juga Iyeth Bustami yang malam itu mendendangkan lagu Laksmana Raja Di Laut dengan
penuh semangat. Tak kalah heboh penampilan diva dangdut Kristina lewat nomor Janji.

Selain menyumbang lagu, beberapa selebritis tampil membacakan puisi. Ratih Sang dan Wulan Guritno masing-masing naik ke panggung dan membawakan puisi karya Melly Goeslaw, Aku Tidak Peduli dan Prosa Untuk Aceh. Namun yang paling menghebohkan adalah penampilan pasangan Nia Daniati dan Farhat Abbas berduet secara spontan dalam rangka lelang gitar milik Abdee “Slank”.

Lelang yang dipandu oleh Helmy, Ivy Batuta serta Peggy ini berlangsung cukup seru. Saat harga lelang berhenti pada nominal Rp 40 juta, Nia Daniati naik ke panggung menyanyikan satu tembang milik Ebiet G.Ade, diiringi sang suami yang memetik gitar lelang. Setelahnya, Farhat kembali memetik gitar sambil menyanyikan sebuah lagu ciptaannya sendiri, tentang cintanya pada sang istri.
KLIK - Detail
Usaha Farhat ini lumayan menggelitik penonton, bahkan membuat salah seorang kliennya, Mr.Lee, berani melipat duakan harga lelang menjadi 80 juta. Berikutnya suasana lelang memanas dan terjadi susul-menyusul harga antara Mr.Lee, Adrie Subono, dan Meta, seorang penyanyi pendatang baru.

Peggy Melati Sukma juga punya andil besar “memaksa” masing- masing pesaing mengajukan harga yang lebih tinggi. Peggy tak segan-segan mengeluarkan segala jurus rayuan. Akhirnya, Adrie memenangkan lelang gitar ini dengan Rp 325 juta.

Sementara Mr.Lee malam itu merogoh kocek sebesar Rp 100 juta untuk penampilan perdana Reza Artamevia di depan umum. Penampilan Reza malam itu ternyata dipersiapkan panitia sebagai sebuah kejutan. Reza malam itu tampil berduet dengan guru spiritualnya, Gatot Braja Musti. Usai menyanyi Reza kembali ke Sukabumi.

KLIK - Detail Selain gitar milik Abdee, turut pula dilelang sebuah lukisan yang diberi judul “Kota Raja-Raja” karya seorang seniman keturunan Aceh, Syah Nagra Ismail. Lukisan tersebut akhirnya jatuh ke tangan pengusaha sekaligus politikus, Ade Nasution. Pembacaan puisi yang dilakukan oleh Tamara Blezinsky juga dilelang dan berhasil mengumpulkan rupiah sebesar 25 juta.

Malam itu, berhasil dikumpulkan dana tak kurang dari 725 juta rupiah ditambah 200 US$. Menurut pemrakarsa acara, Cut Keke, dana tersebut akan mereka sumbangkan langsung pada masyarakat Aceh, tanggal 2 Januari ini. Keke bersama 9 orang rekannya, termasuk Indra Brasco, Mona Ratuliu, Peggy Melati Sukma, Teuku Zacky dan Nova Eliza, memang berencana mengunjungi Aceh selama 2-3 hari.

KLIK - DetailMENGGALANG DANA DI LAYAR KACA
Adalah Metro TV yang memelopori penggalangan dana untuk korban tsunami lewat layar kaca. Setelah itu disusul stasiun lain dengan membuka “dompet bencana”. Di luar itu, beberapa tayangan sengaja dibuat untuk menggalang dana. Indosiar, misalnya, Rabu (29/12) malam lalu mengumpulkan puluhan artis di studionya. Beberapa artis tampil di acara Kita Peduli yang disiarkan mulai 21.30 hingga 00.30.

Artis yang menyumbangkan lagu adalah grup Slank, Gigi, Warna, AB Three, Chrisye, Rio Febrian dan para penyanyi AFI. Sementara Dewi Yull kebagian membacakan doa.
Di luar mereka masih banyak artis lain yang datang di acara tersebut. Sebut saja, Bob Tutupoli, Joshua dan Damai AFI Junior, Trie Utami, Inneke Koesherawaty, Rhoma Irama, Camelia Malik, Tohpati, Ferdi Hassan, dan Pong Harjatmo. Juga hadir Rano Karno, Indro Warkop, Dewi Gita, Gunawan, Mayang Sari, dan Rieke Diah Pitaloka, Cici Paramida serta Tukul Arwana.

KLIK - Detail Penggalangan dana tersebut berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp 12 miliar. Dana tersebut berasal dari sumbangan masyarakat dan pendapatan iklan saat acara berlangsung.

Sehari kemudian, RCTI juga mengadakan acara serupa. Nama tanyangannya, Malam Peduli Kasih. Sejumlah artis ikut terlibat di acara ini, mulai dari Delon, Farhan, Dedy Corbuzier, Dewa, Mayangsari, Ikke Nurjanah, Shanty dll.

Malam itu penonton bisa langsung menyumbang baik melalui SMS, telepon maupun transfer langsung ke bank. Dana yang terkumpul akan digabungkan dengan sumbangan lain yang diterima RCTI yang malam itu mencampai sekitar Rp 13 miliar.

Kembali ke Jojon Center

Posted by JC at 15:47:20 | Permalink | No Comments »

Monday, November 29, 2004

Musik Jenaka dan Goyang Cucu Cahyati

Sumber: Suara Merdeka | Senin, 29 Nopember 2004

YOGYAKARTA - Ribuan penonton yang memadati Pasar Rakyat 76 tampak terhibur menyaksikan penampilan Orkes Musik (OM) Sinten Remen bersama Cucu Cahyati, Tri Utami, Rieke Dyah Pitaloka, Tukul Arwana, dan Butet Kertaredjasa, Sabtu (27/11) malam di Alun-alun Utara Yogyakarta.

Acara tersebut betul-betul menjadi hiburan alternatif bagi wong cilik di Kota Gudeg. Apalagi selama tiga hari pergelaran yang dimotori PT Djarum Kudus menyuguhkan berbagai kesenian, dari kesenian tradisional hingga pentas musik bersama artis-artis ibu kota.

Di seputar panggung hiburan Pasar Rakyat 76 juga digelar stan-stan yang menjual berbagai produk, sehingga suasananya mirip pasar malam yang sering digelar di daerah. Konsep kesenian ini digelar sebagai media hiburan sekaligus ajang promosi.

Pada pergelaran Sabtu (27/11) malam lalu, penyanyi dangdut Cucu Cahyati dan Tri Utami diiringi OM Sinten Remen dengan bintang tamu Eros Sheila On 7 betul-betul menghadirkan hiburan yang menarik di tengah bisingnya suasana kota.

Kemeriahan konser itu makin terasa komplit ketika Butet Kertaredjasa, Rieke Dyah Pitaloka dan Tukul Arwana sebagai moderator tampil komunikatif. Mereka sesekali melontarkan kritik terdahap kebijakan pemerintah maupun sikap mahasiswa yang dinilai tidak pas.

Simpan Kondom

Simak saja ketika Butet menjelaskan kepada Rieke Dyah Pitaloka mengenai Yogyakarta sebagai Kota Pelajar. ”Rieke kalau melihat pelajar di Yogyakarta pasti heran dan kagum, karena di kamar mereka penuh buku-buku pelajaran dan buku literatur. Tetapi jangan heran kalau di sela-sela buku itu juga tersimpan kondom,” kata Butet yang langsung disambut tawa penonton.

Kemeriahan suasana Pasar Rakyat 76 terasa komplit, ketika Tri Utami maupun Cucu Cahyati tampil memikau. Goyangan Cucu Cahyati yang cukup menantang makin menggairahkan ribuan penonton yang memadati acara tersebut. Bahkan, puluhan penonton turut bergoyang mengikuti irama musik Sinten Remen.

Seperti biasanya OM Sinten Remen yang dikomandani Djaduk Ferianto tampil jenaka. Kemeriahan irama musik makin menggairah penonton yang berdesak-desakan maju ke panggung. Namun hal itu tidak sampai menimbulkan masalah, karena mereka hanya ingin bergoyang bersama artis kesayangannya. Pada penghujung acara digelar pesta kembang api. (sgt-63)

Posted by JC at 15:18:32 | Permalink | No Comments »

Friday, November 26, 2004

Gerimis Tak Pudarkan Pasar Rakyat

Sumber: Suara Merdeka | Jumat, 26 Nopember 2004

YOGYAKARTA -Sejumlah artis Ibu Kota bersama kelompok Sinten Remen semalam meriahkan Pasar Rakyat 76 yang digelar di Alun-alun Utara Yogyakarta. Suasana gerimis tidak mengubah minat ribuan pengunjung menyaksikan acara tersebut.

Pasar Rakyat 76 yang digelar selama tiga hari menampilkan Butet Kertaredjasa, Rieke Diah Pitaloka, Tukul Arwana, Cucu Cahyati, Trie Utami. Selain itu, dan dimeriahkan dengan kesenian tradisional jathilan, angguk, reog, campursari, serta wayang kulit.

Menurut Eko Bebek selaku koordinator pertunjukan, PT Djarum sengaja menggelar acara itu secara langsung di daerah-daerah. Dengan demikian, diharapkan pecinta Pasar Rakyat 76 bisa langsung menyaksikan dari dekat dan tidak hanya menyaksikan melalui siaran televisi.

Acara dimulai layaknya pasar rakyat sungguhan, yakni mulai pukul 16.00 hingga tengah malam. Di sela-sela acara tersebut juga digelar berbagai kesenian tradisional.

Kemerihan seemakin terasa ketika tampil Sinten Remen pimpinan Djadug Ferianto dengan moderator acara Butet Kertaredjasa bersama Rieke Dyah Pitaloka dan Tukul Arwana.

Canda

Kalau masyarakat biasanya hanya bisa melihat atau menyaksikan Pasar Rakyat 76 di sebuah televisi swasta, semalam mereka bisa langsung bercanda dan berdialog dengan artis pujaannya secara leluasa dan mesra. Suasana semakin hidup ketika Butet, Diah, dan Tukul selaku moderator panggung tampil komunikatif.

Banyolan lucu dan sindiran yang dilontarkan ketiga moderator panggung itu sepertinya meluncur enak didengar. Padalah semua itu berjalan sesuai skenario, tetapi anehnya meluncur halus dan enak didengar telinga.

Itu karena dimainkan oleh seniman panggung yang sudah berpengalaman, sehingga wajar apabila tingkah laku dan bicara yang diucapkan selalu enak.

Pasar Rakyat 76 di Alun-alun Utara Yogyakarta ini disaksikan ribuan penonton. Pagelaran ini menjadi hiburan alternatif bagi masyarakat usai merayakan liburan Lebaran. (sgt-81)

Kembali ke Jojon Center

Posted by JC at 15:05:09 | Permalink | No Comments »

Thursday, November 11, 2004

Inul Daratista – Uut Permatasari Adu Tenar Dengan Bintang KDI

Sumber: Samarinda Pos | 11 November 2004

Siapa sih yang lebih tenar, pedangdut bermodal goyang macam Inul Daratista dan Uut Permatasari ataukah pedangdut pendatang baru bersuara emas macam bintang KDI (Kontes Dangdut TPI)? Agaknya sulit diprediksi. Namun TPI dan antv nampaknya yakin betul, kalau acara mereka yang bakal jadi unggulan.

Perang antar stasiun TV itu bisa kita saksikan pada Lebaran hari kedua, Senin (15/11) mendatang, tepat di saat prime-time. TPI dengan program Halal Bihalal KDI (pukul 20.30 WIB) dan antv dengan program Kampung Artis (pukul 19.30 WIB).

Kampung Artis, yang berkesempatan diputar lebih dulu berkisah tentang tiga keluarga yang berlainan status ekonomi. Menjelang Lebaran, putra bungsu keluarga miskin Sulasikin hilang. Keluarga Sulasikin lalu menyalahkan keluarga Darmawan yang kaya-raya. Acara ini dibintangi juga oleh Eko Patrio, Audy, Baim, Happy Salma, Tofu, AB Three dan Tasya.

Sementara Halal Bihalal KDI, yang didukung artis kenamaan macam Timbul, Sarah Azhari, Tarsan, Tessa Kaunang, Tukul Arwana dan Nunung Srimulat, bercerita tentang dua keluarga yang hidup bermusuhan. Konflik berfokus pada masalah harta, pangkat, dan status, mirip kisah Romeo-Juliet versi masa kini.

Sebelumnya, pada tanggal 13 November pukul 19.00 WIB, sejumlah finalis KDI membawakan lagu-lagu Timur Tengah dalam acara bertajuk Marhaban Ya’Ied. Dan esoknya, Operet Idul Fitri KDI menampilkan Torro Margens, Rita Effendi, dan Ryan Gonzales.(GTG)

Kembali ke Jojon Center

Posted by JC at 16:54:34 | Permalink | No Comments »

Wednesday, September 22, 2004

Peringatan HLN Ke-59:

Sumber: PLN | September 2004

Siang hari itu, Rabu, 29 September 2004, terik matahari cukup me­nye­­ngat halaman upacara PLN Kantor Pusat, tempat berlangsungnya aksi Donor Darah Nasional (DDN). Meski kegiatan transfusi darah tersebut sudah dimulai sejak jam sembilan pagi, na­mun hingga pukul dua siang itu ra­tus­an orang masih antre untuk me­nyum­­bangkan darahnya.

Suparni, adalah salah satu dianta­ra­nya. Meski udara terasa semakin pa­nas, ia dengan sabar tetap menunggu gi­liran panggilan petugas transfusi da­rah. Namun sayang, wanita paruh baya yang rela datang jauh-jauh dari ru­mah­nya di kawasan Bekasi Timur itu, akhir­nya harus menerima kekecewaan. Pa­salnya, panitia terpaksa menghenti­kan aksi sosialnya karena kehabisan kan­tong darah.

Seperti diungkapkan Sekretaris Perusahaan PT PLN, Muljo Adji yang mengamati langsung pelaksanaan donor sejak pagi, bahwa di Kantor Pusat PT PLN hingga siang itu memang masih banyak calon pendonor yang antre. Na­mun mereka terpaksa kecewa karena kantong darah yang disiapkan hanya tersedia sesuai yang direncanakan.

“Kami sungguh tak mengira, be­gitu besar animo pegawai PLN dan ma­syarakat terhadap kegiatan DDN yang ju­ga dilaksanakan secara serentak se­lu­ruh Indonesia ini. Para calon donor be­gitu membludak,” ujar Muljo Adji.

Para petugas transfusi dari PMI yang bertugas di Kantor PLN Pusat si­ang itu memang begitu kewalahan me­layani para pendonor. Menurut Muljo, me­reka sama sekali tidak sempat ber­istirahat. Bahkan saat makan siang yang ba­ru bisa disediakan setelah pukul 13.30, itupun terpaksa mereka san­tap dengan tergesa-gesa. “Bagaimana bi­sa tenang, para petugas itu dikelilingi te­rus oleh calon pendonor yang tidak sa­bar menyumbangkan darahnya,” ujar Pak Sekper, salah seorang yang paling si­buk selama pelaksanaan rangkaian kegiatan HLN ke-59 kali ini.

***

Ulang tahun memang tidak selalu iden­tik dengan pesta dan hura-hura. Pa­ling tidak itulah yang ingin coba ditun­juk­kan PT PLN dalam mempe­ringati Ha­ri Listrik Nasional - 27 Oktober 1945, yang sekaligus juga sebagai hari ulang tahun­nya PLN yang ke-59 tahun ini.

Seperti juga tahun-tahun sebelum­nya, peringatan HLN kali ini memang di­warnai dengan berbagai kegiatan olah ra­ga, seminar, konvensi, maupun pem­be­rian penghargaan bagi perorangan ataupun Unit yang mempunyai kon­tri­busi terbaik ba­gi perusahaan. Namun yang nampak pa­­ling menonjol dari rang­­kai­an pe­r­i­ngat­an HLN tahun ini ada­lah adanya ber­bagai ke­giatan sosial yang benar-be­nar langsung menjangkau ma­syarakat yang membutuh­kan uluran tangan.

Direktur Utama PLN Eddie Wi­di­o­no, mengaku merasa gembira dan se­ka­ligus terharu, karena ternyata rang­kai­an kegiatan HLN tahun ini benar-be­nar dapat menyentuh nurani dan jiwa so­sial kita untuk peduli kepada sesama. “Ke­giatan ini sungguh merupakan cerminan dari tata nilai anggota Per­usahaan,” begitu ucap Eddie pada acara Malam Ramah Tamah HLN Ke-59 yang berlang­sung di Auditorium PLN Kantor Pusat, 12 Oktober lalu.

Dalam memperingati HLN tahun ini, cukup banyak kegiatan sosial yang meng­apresiasikan kepedulian PLN. Ti­dak hanya kegiatan donor darah, PLN Pusat juga menggelar aksi perkawinan massal, bantuan kepada anak-anak ya­tim, pan­ti-panti jompo, khitanan mas­sal, ope­rasi katarak, sampai dengan ke­giat­an berbagi kasih dengan anak-anak jalan­an.

Perkawinan massal yang digelar di sebuah panti sosial di kawasan Bekasi, pada 6 Oktober 2004, berhasil meni­kah­­­kan secara resmi 59 pasangan. Aksi so­­sial yang bertajuk “PLN Mantu” ini me­­mang bertujuan untuk membantu me­reka yang karena keterbatasannya, se­lama ini mereka hidup layaknya se­bagai suami-istri namun belum ada ikat­an secara resmi yang dituangkan dalam akte nikah.

Aksi kemanusiaan juga dilakukan pada sejumlah panti jompo yang ada di DKI Jakarta. Diantaranya, kunjungan dan penyerahan berbagai macam bantu­an itu ditujukan ke Panti Jompo Budi Mu­lia II di Cengkareng, Jakarta Barat pa­da 23 September silam, Panti Jompo Bu­di Mulia III berlokasi di Ciracas, Ja­karta Timur pada 28 September 2004, dan Panti Jompo IV di Kebayoran Baru, Ja­karta Selatan, pada 30 September 2004.

Bantuan yang diserahkan lang­sung oleh Persatuan Ibu-Ibu (PI) PT PLN kepada masing-masing panti jompo tersebut berupa barang-barang yang menjadi kebutuhan vital para peng­huni panti, seperti karbol, pem­pers, sembako, pewangi pakaian, pasta gigi, dan sabun mandi. Selain itu dibe­rikan pula bantuan berupa 40 kasur bu­sa kepada Panti Jom­po Budi Mulia III dan bantuan berupa perbaikan 2 unit WC juga dilakukan di Panti Jompo Budi Mulia II.

Menurut Tri Muljantini, koor­di­na­tor kegiatan bantuan panti jompo, le­wat ke­giatan sosial ini PT PLN me­mang ber­maksud membagi kasih kepa­da me­reka yang kurang beruntung. Para peng­huni pan­ti tersebut adalah orang tua tuna wis­ma yang tidak memiliki ke­luar­ga atau sa­nak saudara. “Tiga panti jom­po yang di­kelola Pemda DKI ini ang­garannya sangat tidak memadai. Ka­rena itulah perhatian dan partisipasi ma­syarakat tentu akan sangat mem­ban­tu kelang­sung­an opera­sio­nal panti,” ujarnya.

Tri juga mengatakan, lewat kegiat­an tersebut PT PLN juga bermaksud mem­bagi keceriaan dan kegembiraan ke­pada para jompo. Itulah sebabnya da­lam setiap kunjungan diiringi dengan hi­buran berupa permainan organ tung­gal, sehingga mereka bisa bergembira, ber­nyanyi dan menari bersama.

Rekor Fenomenal

Yang patut dibanggakan warga PLN pada peringatan HLN tahun ini ada­lah keberhasilan dalam penyeleng­garaan Donar Darah Nasional, sebuah ak­si sosial yang mampu menghimpun sebanyak 53.369 pendonor yang me­nyum­bangkan 13,3 juta cc darah. Ke­giatan DDN yang dilaksanakan sporadis selama 6 jam pada 19 September di seluruh PLN beserta Unit-Unit dan di­ikuti oleh keluarga besar PLN beserta mi­tra kerjanya itu bahkan telah tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI).

Piagam Rekor MURI yang dicapai oleh PLN dalam kegiatan DDN tersebut secara resmi telah diserahkan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro yang di­dam­pingi Paulus dari MURI, kepada Dir­ut PLN Eddie Widiono pada acara Ma­lam Ramah Tamah HLN di Audi­to­rium PLN Kantor Pusat.

Menurut Eddie Widiono, penca­paian rekor MURI ini sebenarnya bu­kanlah target utama. Kegiatan donor da­rah ini dimaksudkan untuk mewu­jud­kan kepedulian PLN atas penderitaan sesama umat manusia. “Itulah tujuan utama kami. Kalaupun ternyata jumlah pendonor mampu menyerahkan rekor nasional yang sudah ada, saya kira itu atas karunia Tuhan Yang Maha Esa, kerja keras teman-teman panitia di seluruh Indonesia dan dukungan PMI dan pihak lainnya,” ujarnya.

Berdasarkan catatan MURI, rekor donor darah sebelumnya dipegang PT APAC Inti Corpora dengan jumlah pen­donor 4.879. Rekor yang tercipta pada September 2003 itu dicapai dalam wak­tu 7 jam. Namun rekor hanya ber­ta­han sebulan, sebab pada Oktober 2003 Pem­da Daerah Istimewa Yogya­kar­ta berhasil me­ng­ungguli dengan jumlah 4.884 pen­­donor dalam tempo 7 jam.

Dibanding dengan dua rekor sebe­lumnya tersebut, menurut Sekre­taris Per­usahaan PT PLN Muljo Adji, prestasi yang dicapai PLN memang jauh lebih fenomenal. “Selain jumlah pendonor­nya meledak, waktu yang diperlukan pun lebih singkat. Saya tidak tahu apa­kah prestasi ini bahkan juga pantas un­tuk dicatat dalam Guinness Book of Record,” ujarnya.

Adji mengatakan, sebetulnya po­tensi jumlah pendonor dan darah yang disumbangkan bisa jauh melam­paui rekor tercipta. Di Kantor Pusat PLN sa­ja, jumlah yang mendaftar mencapai lebih dari 950 pendonor. Namun karena kantong darah yang tersedia hanya 450 buah, terpaksa banyak calon pendonor yang kecewa. Kejadian serupa, menur­utnya, juga banyak dialami Unit-Unit di seluruh Indonesia.

Keberhasilan DDN ini memang merupakan keberhasilan dalam memo­bi­lisasi seluruh kantor Unit PLN di seluruh Indonesia. Menurut Siswanto Hadiatmo, koordinator DDN, aksi do­nor darah yang diselenggarakan secara se­­rentak ini dipusatkan di Jakarta, untuk wilayah Indonesia Barat. Sedang­kan wilayah Indonesia Tengah dan Ti­mur, masing-masing dipusatkan di Ma­nado/Makasar dan Jayapura.

Lokasi pengambilan darah telah dilak­sanakan di semua jajaran PT PLN, mu­lai dari Ranting, Rayon, Cabang, Area Pelayanan dan Jaringan (APJ), Area Pelayanan Pelanggan (APP), Wilayah, Anak Perusahaan, Proyek Induk, Kantor Pusat, dan unit-unit penunjang lain. Kegiatan donor darah juga dilaksanakan di tempat-tempat publik, seperti mall, lapangan terbuka, dan pusat-pusat keramaian lainnya. Dilaporkan, di Unit-Unit PLN di Jawa Timur telah melibat­kan sekitar 5.123 orang yang melakukan donor darahnya kepada PMI Surabaya. Di Jawa Tengah jumlah pendonor mencapai 8.621 orang.

Menurut Siswanto, aksi donor da­rah ini memang menjadi kegiatan an­dal­an dari rangkaian kegiatan Hari Lis­trik Nasional. Itulah sebabnya pihak­nya telah mengerahkan segala kemam­pu­an yang ada demi suksesnya acara ini. “Kami juga berterima kasih kepada ma­syarakat umum yang sudah berkenan ber­partisi­pasi dengan mendo­norkan da­rahnya pada kegiatan ini,” tutur Siswanto.

Paulus, perwakilan MURI yang men­dam­pingi Menteri ESDM saat pe­nyerahan piagam rekor MURI mengata­kan, aksi kemanusiaan donor darah yang digelar PLN secara nasional ini me­mang fenomenal. Namun selain itu, menurut Paulus, sebenarnya ada dua kegiatan PLN lainnya yang memiliki ca­tat­an prestasi mengagumkan. Perta­ma adalah kegiatan khitanan massal yang diselenggarakan PLN di Makasar diikuti oleh sekitar 7 ribu anak. “Saya ki­ra ini bu­kan saja menjadi rekor na­sio­nal, tapi mungkin ini merupakan re­kor dunia,” ujar Paulus yang langsung disambut dengan tepuk tangan seluruh hadirin yang mengikuti acara Malam Ramah Ta­mah tersebut.

Kedua, Paulus juga mengabarkan kegiatan fenomenal lainnya di ling­kung­an PLN, yaitu dengan berlang­sung­nya aksi pengumpulan pesan sing­kat atau komentar dari pelanggan ten­tang PLN yang ditulis pada sebuah span­duk sepanjang 1 Km. “Aksi yang ber­langsung di Cirebon belum lama ter­se­but, juga luar biasa,” ujarnya lagi.

Terlepas mencatat rekor atau ti­dak, menurut Eddie Widiono, semua ke­­giatan sosial dalam rangka peringat­an HLN tersebut merupakan wujud dari keinginan warga PLN untuk lebih me­ng­­apresiasikan kepeduliannya terha­dap ma­syarakat yang benar-benar mem­bu­tuhkan bantuan.
“Rasa kepedulian tersebut juga akan kami wujudkan dalam bentuk acara ‘Peduli Kasih’ atas kerjasama dengan Stasiun TV Swasta yang akan ditayangkan pada 24 Oktober menda­tang,” ujar Eddie pada Malam Ramah Tamah yang selain dihadiri Menteri ESDM, Sekjen DESM, Dirjen LPE, para Komisaris dan Direksi PLN dan para GM/Pemimpin Unit seluruh Indonesia.

Pada acara yang dimeriahkan se­jum­lah artis ternama seperti Denada, Ro­ni Sianturi, Tukul Arwana dan Diah Pi­thaloka tersebut, Purnomo Yusgian­to­ro menyerahkan penghargaan Mente­ri ESDM, “Dharma Karya”, kepada 5 Unit Pelayanan PLN terbaik, sementara Eddie Widiono menyerahkan beberapa peng­hargaan kepada para pemenang lom­ba untuk umum dan penghargaan un­tuk pelanggan.

Secara khusus, pada kesempatan itu Eddie Widiono juga menyerahkan se­buah penghargaan istimewa kepada Ma­najer UPJ Bandung Selatan, Su­prap­to, atas dedikasi dan loyalitasnya me­lawan tindak kekerasan. Saat menerima piagam penghargaan tersebut, sebelah tangan Suprapto nampak masih terbalut perban.

Konon Suprapto mendapat se­ra­ng­­­an brutal dari salah seorang pelang­gannya ketika ia menjalankan tugas se­hingga jarinya terputus. “Beliau pantas diberi penghargaan, karena meski be­gitu berat rintangan dan ancaman yang dialami, tetapi demi tugas Pak Suprapto te­tap teguh menghadapinya. Sikap ini­lah yang patut dicontoh oleh kita se­mua,” ucap Eddie Widion

Kembali ke Jojon Center

Posted by JC at 17:09:41 | Permalink | Comments (1) »

Sunday, December 28, 2003

Ojo Dumeh Ojo Dumeh Anugerah Media Kebudayaan

Sumber: Republika | 28 Desember 2003

Sastrawan Putu Wijaya boleh tersenyum. Salah satu karya fiksinya yang dituangkan dalam sinetron Ojo Dumeh, sukses melambungkan nama Surya Citra Televisi Indonesia (SCTV). Karena Ojo Dumeh, salah satunya, SCTV berhak atas Anugerah Media Kebudayaan untuk Televisi Indonesia kategori sinetron, dari Kementerian Negara Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar).

Ojo Dumeh, dalam sinopsisnya yang dirilis SCTV, adalah nama sebuah pesanggrahan yang dikelola oleh bapak dan ibu Sastro. Dalam menjalankan kegiatan sehari-harinya, mereka dibantu oleh Trinil dan Mini yang genit. Ada juga tokoh Klobot dan Arjuna, pembantu keluarga Pak Sastro.

Namun, di pesanggrahan Ojo Dumeh, ada juga penghuni lain yaitu makhluk halus bernama Nimas Ratu, yang konon meninggal akibat bunuh diri setelah dikhianati sang suami. Makhluk halus ini bisa baik, tetapi bisa juga garang apabila ada orang yang berniat jahat terhadap keluarga Pak Sastro.

Di pesanggrahan inilah berbagai persoalan timbul, seiring dengan silih bergantinya tamu-tamu yang menginap. Setiap episode baru tentu membawa cerita baru, tetapi tentu tetap dengan benang merah pada peristiwa dan kejadian di pesanggrahan. Pemeran utamanya adalah Inneke Koesherawati, Tarsan Srimulat, Tati Wardiono, dan Tukul Arwana.

Trofi karya pematung Iriantine Karnaya menandai acara pengalungan Anugerah Media Kebudayaan itu di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Ahad dua pekan lalu. Kegiatan ini baru pertama kali digelar dan khusus dipersembahkan untuk media televisi.

Panitia membagi acara bernuansa kebudayaan di televisi ke dalam lima kategori. Meliputi kategori sinetron, feature, acara anak, variety show, dan seni pertunjukkan. Lima kategori anugerah itu disabet secara bagi rata oleh lima stasiun televisi.

Pakar komunikasi dari LP3Y, Drs Ashadi Siregar, mengetuai dewan juri yang beranggotakan budayawan, seniman, dan pengamat televisi. Mereka adalah Prof Dr Edi Sedyawati, Prof Dr Harsono Suwardi, Drs Yasraf Amir Piliang MA, dan Drs Ade Armando.

Selama dua bulan terakhir, dewan juri melek di depan televisi. Mereka memantau dan menilai program-program tayangan yang mengandung nilai-nilai budaya nasional. Identifikasi mereka adalah mencari program rutin. Dari situ kemudian diukur volume serta substansi budayanya.

Walhasil, akhirnya delapan stasiun televisi diboyong ke babak nominasi. Untuk kategori sinetron, terdapat SCTV dengan tayangan Ojo Dumeh, Juragan Lenong, dan Pesan Gado-gado.

Nomine kedua adalah Trans TV yang mengusung sinetron komedi situasi masyarakat Betawi, Bajaj Bajuri. Dan pada nomine ketiga adalah ANtv dengan tayangan Leila Majenun dan Gado-gado Metropolitan. Pemenang untuk kategori sinetron ini diraih SCTV!

Pada kategori feature, nominenya terdiri dari TV7 (Jejak Petualang), TVRI (Dokumenter), dan Metro TV (Oasis, Archipelago, Expedition, dan Maestro). Yang meraih anugerah adalah Metro TV.

Kategori acara anak, muncul nominasi yang terdiri dari Trans TV (Rahasia Anak), Indosiar (Sahabat Sejati dan Celoteh Anak), serta TVRI (Pentas Anak). Indosiar keluar sebagai pemenangnya.Untuk kategori variety show, cuma ada dua nominasi, yakni TV7 dengan Es Campur Es dan TPI dengan Pasar Rakyat. TPI tampil sebagai pemenangnya.

Pada kategori seni pertunjukkan, juga hanya dua nomine. Masing-masing Indosiar yang dikenal konsisten menayangkan Ketoprak dan Wayang Kulit, serta TVRI dengan program Musik Pop Daerah, Wayang Kulit, dan Wayang Orang. TVRI mengalahkan Indosiar!

”Anugerah Kebudayaan ini diberikan untuk televisi yang dianggap berdedikasi terhadap kebudayaan,” kata Menteri Negara Budpar, I Gede Ardhika. Ardhika kemudian buru-buru mengatakan bahwa pada tahun-tahun berikutnya anugerah serupa sekalgus diberikan kepada media cedtak dan radio. Joko Edhi Sucipto, sang produser kegiatan tersebut, ikut menegaskan rencana pemberian anugerah kebudayaan yang diperluas itu.

”Kementerian Budpar memiliki program pemberian Anugerah Kebudayaan untuk media massa. Namun karena banyak keterbatasan, untuk tahun ini baru bisa diberikan kepada televisi,” kata Joko kepada Republika.

Malah, untuk tahun berikutnya, lanjut Joko, tidak hanya media cetak dan elektonik yang akan mendapat anugerah, termasuk media luar ruang (iklan misalnya bilbor, spanduk, dan reklame), serta publik forum (seperti seminar). ”Nantinya, kami bisa memberikan penghargaan kepada orang perorangan, seperti pembicara dalam seminar yang dianggap melakukan mediasi kebudayaan,” tambah Joko.

Mengedepankan televisi untuk mendapatkan anugerah, agaknya tidak lepas dari kecemasan masyarakat yang makin meluas. Yakni terhadap banyak tayangan sampah yang bisa menimbulkan erosi budaya dan dekadensi moral. Belakangan sampai muncul gugatan dan pertanyaan sinis kepada para pengelola televisi tentang program yang ditayangkannya. ”Makhluk apakah insan televisi itu? Apakah mereka manusia yang punya otak, hati, dan keluarga, atau robot?” kata sejumlah pemirsa.

Dalam bahasa halus, Joko menguraikan, betapa media pandang dengar (televisi) dalam pembentukan perilaku anak bangsa. Namun, televisi meliki pakem sebagai media pembentukan perilaku yang berdiri di atas paradigma industri.

”Untuk menjadikan televisi sebagai industri berbudaya, mustahil. Kami tidak bermaksud untuk menarik mundur fungsi televisi dengan menjadikannya media kebudayaan. tapi bagaimana bisa memberikan muatan kebudayaan pada pesan-pesan yang di sampaikannya,” tutur Joko.

Kekurangan lain dalam penyelenggaraan anugerah kali ini adalah belum jelasnya kriteria penilaian. Joko mengungkapkan kritik dari seniman Adhie Massardi yang menilai kriteria penilaian lebih condong ke program (performance) ketimbang substansi (sistem nilai). ”Kalau begitu yang dianggap budayawan adalah programer,” kata Adhie.

Joko menerangkan bahwa untuk tahap awal ini memang sulit untuk menentukan kriteria. Sebab, definisi kebudayaan pun dalam tayangan televisi masih rancu. Tayangan ketoprak misalnya, belum tentu memiliki substansi kebudayaan kalau isinya penuh dengan humor.

Tapi pada garis besarnya, menurut Joko, kriteria penilaian mengacu pada nilai-nilai yang diterima publik sebagai pesan kebudayaan. ”Memang masih diperlukan pakem-pakem dan parameter lebih lanjut,” katanya. Joko juga mengangankan, Anugerah Kebudayaan sebaiknya mirip Oscar. Yakni, semua pihak yang terlibat dalam proses mediasi kebudayaan mendapatkan trofi.

”Tapi, so far so good, lepas dari segala kelemahan dan kekurangannya, Anuegerah Media Kebudayaan Kali ini masih lebih baik ketimbang tidak dilaksanakan,” katanya. Tapi, yang tidak diharapkan, kegiatan itu terlalu dipaksakan. Misalkan,Kantor Meneg Budpar harus menghabiskan anggaran di akhir tahun. Kalau ternyata begitu, bisa dituding seperti judul sinetron Putu Wijaya, namanya ojo dumeh! (zam )

Kembali ke Jojon Center

Posted by JC at 16:31:36 | Permalink | No Comments »

Friday, November 28, 2003

Tukul Arwana, Rezeki Berlimpah Bulan Ramadhan

Sumber: Disctarra.com | 28 Oktober 2003

Bulan Ramadhan adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh kalangan umat Islam. Bulan penuh hikmah dan pengampunan ini juga ternyata memberikan rezeki berlimpah-ruah bagi para artis. Seperti halnya dengan pelawak Tukul Arwana yang mengaku dalam sebulan bisa mengantongi uang sebesar Rp. 50 juta lebih. “Ini rejeki dari Allah,” demikian katanya saat ditemui di Cafe Komando, belum lama ini.

“Kalau untuk acara khusus Ramadhan, saya cuma punya dua acara saja. Yakni Korma singkatan dari Komedi Ramadhan di RCTI. Satunya lagi, Salam Sahur, yang ditayangkan TV 7,” ujar pelawak yang punya potongan rambut kotak cepak ini. Selain dua acara tersebut, ternyata lelaki ini masih tetap mengisi acara off air rutin seperti Welcome Dance (RCTI), dan sinetron garapan Putu Widjaya, Ojo Dumeh (SCTV).

Dengan jadwal kegiatan syuting tersebut, tak heran jika Tukul menerima bayaran cukup banyak. “Ramadhan ini honor yang saya terima cukup besar dibandingkan tahun lalu. Sekarang ‘kan syutingnya lebih banyak dan harganya pun spesial. Perbedaannya bisa sampai 5 jutaan daripada hari biasa,” ucapnya.

“Dalam setiap penampilan saya, sebenarnya saya tidak mematok harga sekian. Bagi saya yang penting honornya tidak terlalu kecil. Kalau biasa-biasa saja, boleh ‘lah,” katanya. Tukul memang artis pelawak yang mujur, setelah penampilannya bersama Joshua dalam video klip tembang Air, namanya kian dikenal saja oleh pemirsa teve.

“Saya juga tidak menargetkan kalau tahun ini harus mendapatkan uang banyak. Saya tidak ngoyo kok, kalau ada dan cocok mengapa saja tidak ambil. Kerja itu ‘kan ibadah juga,” jelas pelawak yang kini juga sering muncul jadi bintang tamu episode Srimulat atau Ketoprak Humor. (03/01)

Kembali ke Jojon Center

Posted by JC at 15:30:25 | Permalink | No Comments »

Friday, November 14, 2003

Saling Intip Menjelang Subuh

Sumber: Gatra | 14 November 2003

Waktu Nonton Lebih Panjang (GATRA/Suci Wulandini)JARUM jam baru lewat beberapa menit dari angka 12 dini hari, Senin pekan lalu. Namun, di saat banyak warga Jakarta mulai bebenah tidur itu, kesibukan justru mulai menyeruak di Studio Penta di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Puluhan kru SCTV menyiapkan acara “Sahur Kita”, yang akan ditayangkan dua setengah jam kemudian. Di ruang kontrol lantai II, produser pelaksana acara itu, Renoningtyas, terlihat berbincang serius dengan sutradara Sukendro.

Sekitar pukul 01.00, Ulfa Dwiyanti sang pembawa acara “Sahur” muncul di lantai II Penta. Padahal, acaranya baru dimulai satu setengah jam kemudian. “Setiap hari saya bangun pukul 12 malam. Siangnya tidur,” ujar Ulfa. Beberapa menit setelah Ulfa, artis pendukung acara mulai berdatangan.

Djaja Miharaja masuk kamar rias, setelah makan sahur di kantin Studio Penta. Disusul Puput Novel, Jodhi, dan Eko Patrio. Lima menit menjelang tayang, kru SCTV menyerukan agar pendukung acara siap di posisi masing-masing. Selajutnya kamera membidik Eko dan Ulfa. Duet “Sahur Kita” ini tampil mengalir dengan gaya ngocol-nya.

Begitulah setiap malam berulang selama bulan Ramadan di Studio Penta. Mulai tengah malam hingga subuh tiba, tak kurang dari 60 kru SCTV bergumul. Saking padatnya acara, tiap Ramadan tiba, kehidupan Studio Penta berlangsung nonstop 24 jam setiap hari. Selain “Sahur Kita”, di sana juga digarap “Sang Bintang”, “Mimbar Agama”, dan “Centro Campo Liga Italia”.

Khusus untuk program Ramadan, SCTV juga menayangkan sinetron berjudul Lorong Waktu, Surga di Telapak Kaki Ibu, dan Jalan Lain ke Sana. Ada juga “Cahaya-Mu”, yang dipandu Emha Ainun Nadjib, dan “Tauziah dan Zikir”, dibimbing Arifin Ilham. Namun, hanya “Sahur Kita” yang disajikan dalam format siaran langsung, pukul 02.30 hingga 04.30, dan digarap full tawa.

Sahur Dong (Dok. SCTV)“Sahur Kita” muncul pertama enam tahun silam, dan telah mengalami tiga kali perubahan format. Awalnya hadir dengan format talkshow ala TVRI, pembawa acara berdialog dengan seorang ustad selaku narasumber. Tahun kedua, diubah menjadi format siaran radio yang dibawakan Ulfah dan Eko. Ada segmen kirim salam, permintaan lagu, dan lomba pantun. “Sahur Kita”-lah yang jadi pionir acara sahur bergaya guyon.

Tahun ini, “Sahur Kita” ditambah fragmen keluarga yang dibintangi Djaja Miharja, Omaswati, dan Jodhi. Bintang tamunya berganti-ganti setiap episode. Di akhir fragmen, muncul seorang yang berperan sebagai penengah dan sekaligus memberi jalan bagi persoalan yang dihadapi “keluarga Djaja”. Segmen dakwah ini hanya berlangsung sekitar empat menit dari seluruh acara yang menelan waktu selama dua jam. “Tapi, kalau dicermati secara keseluruhan, dakwahnya tidak hanya di empat menit itu. Fragmen juga mengemban misi dakwah, kuisnya juga tentang pengetahuan agama,” kata Anto Botak, Produser “Sahur Kita”.

Pada jam tersebut, hampir semua stasiun televisi sibuk menggarap acara siaran langsung. Bahkan TV7 menyewa studio selama satu bulan, seharga Rp 800 juta, khusus untuk syuting program Ramadan. Dari studio yang terletak di Wisma Mampang, Jalan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, itulah TV7 menggarap siaran langsung “Salam Sahur”.

Selama satu setengah jam, “Salam Sahur” hadir dalam format komedi yang diperankan Dorce Gamalama, Tukul Arwana, Bolot, dan Cut Mini. Di sela-sela banyolan segar, “Salam Sahur” menyisipkan pesan agama yang disampaikan Ustad Anwar Sanusi. Paket acara itu dikerjakan bersama Rumah Produksi Ekomando milik Eko Patrio. “Biayanya Rp 150 juta hingga Rp 200 juta untuk sekali tayang,” ujar Eko, yang menolak menyebutkan harga jual “Salam Sahur”.

“Kami membeli konsep dari Ekomando, produksinya kami kerjakan sendiri,” kata Azzust, Executive Producer TV7, yang juga penanggung jawab “Salam Sahur”, kepada Indi Cristy dari GATRA. Tak kurang dari 25 kru TV7 dan 10 awak Ekomando terlibat dalam proses produksi di Wisma Mampang.

Salam Sahur (Dok. TV7)Bukan hanya TV7 yang menayangkan siaran langsung sahur dari Wisma Mapang, Anteve juga menyiarkan acara “Sahur Dong” secara live. Tak berbeda dari acara sahur stasiun televisi lainnya, “Sahur Dong” juga kental nuansa hiburannya dibandingkan dengan dakwahnya. “Habis mau bagaimana lagi, pemirsa televisi lebih menyukai acara hiburan untuk menemani makan sahur,” kata Reva Dedi Utama, penanggung jawab program Ramadan Anteve.

Lebih dari itu, acara hiburan di saat sahur lebih banyak diminati pengiklan. “Kami pernah menayangkan program yang berbeda dari stasiun televisi lain, berupa talkshow membahas masalah agama. Namun, hanya sedikit iklan yang masuk,” Reva menjelaskan. Karena itu, dalam bulan Ramadan sekarang ini, Anteve tak mau kalah menggeber acara hiburan bernuansa Ramadan.

Dana sebesar Rp 10 milyar dikucurkan untuk mengongkosi sejumlah paket acara bulan puasa Anteve, antara lain “Warung Bagito” yang disiarkan menjelang berbuka puasa dan “Sahur Dong”. Anteve menargetkan perolehan iklan sekitar 24 slot dalam satu jam siaran. “Seandainya terisi 15 slot saja, mungkin sudah cukup,” kata Reva Dedi Utama.

Sedangkan Trans TV mengaku pendapatan iklannya naik sekitar 30% selama sebulan menjelang Lebaran. “Kira-kira setara dengan kenaikan biaya produksi untuk program Ramadan,” tutur Anita Wulandari, Head of Public Relations Trans TV. Sepanjang bulan suci sekarang ini, katanya, Trans TV memanjakan pemirsanya dengan enam program siaran Ramadan.

Antara lain, sinetron Bajaj Bajuri Spesial Ramadhan dan Pride of Islam Monuments, film dokumenter miniseri tentang bangunan monumental karya umat Islam di pelbagai penjuru dunia. Dua acara ini dibeli dari production house. Empat paket acara lainnya diproduksi sendiri oleh Trans TV, satu di antaranya “Yuk Sahur Yuk” yang merupakan paket acara produksi Trans TV termahal.

Hanya saja, produser acara “Yuk Sahur Yuk”, Andi Fariadi, tak bersedia membeberkan ongkos produksi dan keuntungan yang didapat. “Itu rahasia perusahaan,” ujar Andi Fariadi. Ia hanya menyebutkan, acara yang bertabur artis beken, seperti Maudy Koesnaedi, pelawak Miing, Didin, Parto Tegal, dan Tarzan, itu merupakan program unggulan Trans TV menjelang subuh.

Banyak Diminati Pengiklan (GATRA/Novie Sartyawan)Selama bulan puasa, stasiun televisi justru menayangkan program unggulan di waktu ayam berkokok itu. Sebab, selama sebulan itu, terjadi perubahan perilaku penonton televisi. “Di bulan puasa, waktu orang nonton televisi jauh lebih panjang,” kata Manajer Humas SCTV, Budi Darmawan. Pada bulan puasa, masyarakat muslim mulai bangun sekitar pukul 02.00, menyiapkan hidangan sahur.

Antara pukul 03.00 dan 04.00, jumlah orang yang berjaga makin bertambah banyak. Setelah bersantap sahur, ada yang pergi ke masjid, tapi banyak pula yang menonton televisi di rumah. “Nah, banyaknya orang nonton televisi inilah yang berusaha kami jaring,” kata Budi Darmawan. Makin banyak penonton televisi, bertambah banyak pula jumlah pengiklan yang masuk.

Meskipun di saat sahur iklan-iklan berjejalan di layar kaca, menurut Budi, tak berarti prime time televisi lantas ikut bergeser. Waktu tayang unggulan di bulan puasa, katanya, hanya bertambah sekitar tiga jam. Biasanya dari pukul 18.00 sampai 22.00, naik menjadi pukul 15.00 hingga pukul 22.00. Karena orang pulang kerja lebih cepat, sekitar pukul 16.30. “Sampai di rumah, mereka nonton televisi, menunggu saat berbuka puasa,” katanya.

Bertambah jam tayang utama ini mendorong stasiun televisi mengeluarkan biaya ekstra untuk mengisi program Ramadan. Biaya produksi SCTV selama bulan puasa, menurut Budi Darmawan, diperkirakan naik 10% dari sekitar Rp 36 millyar per bulan menjadi sekitar Rp 40 milyar.

Sedangkan biaya produksi RCTI selama bulan puasa diperkirakan mencapai sekitar Rp 50 milyar, termasuk biaya produksi reguler dan program Ramadan. “Jadi, ada kenaikan biaya produksi sekitar 20% dari biasanya,” kata Manajer Humas RCTI, Teguh Juwarno.

Meskipun stasiun televisi swasta mengeluarkan biaya ekstra di bulan puasa, acara yang mereka sajikan tak jauh berbeda. “Karena stasiun televisi saling mengintip acara yang disukai penonton,” kata Budi Darmawan. Jika dalam acara sahur hampir semua stasiun televisi menghidangkan acara humor, katanya, karena penonton televisi lebih menyukai hiburan yang diselingi dakwah.

Kentalnya nuansa hiburan dalam program Ramadan di layar kaca dinilai pakar komunikasi dari Universitas Indonesia, Ade Armando, sebagai hal wajar. Karena acara tersebut dimaksudkan untuk menemani orang sahur, kata Ade Armando, yang ditampilkan tidak membutuhkan pemikiran dan perenungan panjang. “Dengan adanya acara entertainment, mereka yang masih mengantuk jadi terbangun,” katanya. Tapi, karena terlalu banyak tawa, kok rasanya nuansa sahur tahun ini jadi kurang afdol, ya?

Kembali ke Jojon Center

Posted by JC at 17:21:26 | Permalink | No Comments »